"Empat Lensa Membaca Krisis Adab"
Beberapa kabar pekan ini duduk berdampingan dengan janggal. Seseorang yang pernah menempuh pendidikan tinggi keagamaan di luar negeri dilaporkan menghabisi nyawa ibunya sendiri. Anak-anak di ruang belajar terancam oleh penyakit dan kekerasan. Sebuah program gizi yang mulia tersandung kabar tunggakan pembayaran. Dan di lini masa, sebuah renungan sederhana viral: iblis pun berilmu dan tekun beribadah, tetapi jatuh oleh kesombongan. Bila diletakkan berjejer, kabar-kabar itu memantik satu dugaan yang mengganggu: persoalan pendidikan kita hari ini mungkin bukan terutama soal akses pada pengetahuan — akses justru melimpah — melainkan soal sesuatu yang lebih sukar diukur, yaitu adab dan integritas. Tulisan ini tidak hendak menghakimi, melainkan membaca gejala itu lewat empat lensa yang saling menguji.
Lensa pertama datang dari ekonomi pembangunan. Dalam kerangka ini, pendidikan adalah investasi human capital: sekolah mencetak tenaga produktif, dan keberhasilannya diukur dari angka partisipasi, gizi, dan serapan kerja. Implikasinya rapi dan terukur. Tetapi celah lensa ini terbuka lebar begitu ditanya: apakah manusia hanya sejumlah output? Seseorang bisa bergizi, bergelar, dan produktif secara statistik, namun tetap sanggup melukai orang terdekatnya. Pertanyaan yang muncul: mungkinkah keberhasilan pendidikan diukur secara jujur tanpa memasukkan variabel yang tak masuk ke dalam spreadsheet — karakter?
Lensa kedua datang dari sosiologi institusi. Sekolah, pesantren, dan keluarga adalah agen yang menjaga tatanan; ketika lembaga gagal melindungi yang lemah, kepercayaan publik runtuh, dan tuntutan atas penguatan sistem serta regulasi pun menguat. Ini masuk akal. Namun celahnya: regulasi bekerja dari luar, sementara adab tumbuh dari dalam. Sistem yang dirancang baik tetap bisa bocor bila diisi orang yang tak amanah — sebagaimana sebuah program bergizi bisa tersendat bukan karena aturannya buruk, melainkan karena pelaksanaannya tak tertunaikan. Pertanyaannya: sejauh mana struktur sanggup menggantikan karakter yang absen?
Lensa ketiga datang dari psikologi moral. Riset lama menunjukkan bahwa mengetahui yang benar tidak otomatis menghasilkan tindakan yang benar; ada jarak antara kognisi dan perilaku, yang kadang dijembatani oleh rasionalisasi. Maka pendidikan karakter, kata lensa ini, harus melampaui hafalan menuju pembiasaan. Betul, tetapi celah tetap ada: pendekatan ini kerap berhenti pada teknik manajemen diri tanpa menjawab pertanyaan arah — karakter dibentuk untuk tunduk pada apa? Tanpa rujukan nilai yang mengikat, "karakter" bisa menjadi sekadar keterampilan sosial yang lentur mengikuti kepentingan.
Lensa keempat menawarkan diri: tradisi Islam, dibaca sebagai kerangka analitis, bukan vonis. Di sini, ta'lim (pengajaran) selalu berpasangan dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), dan ilmu dipahami sebagai cahaya yang menuntut adab serta amanah. QS. Asy-Syams: 10 mengingatkan bahwa yang merugi bukanlah yang bodoh, melainkan yang mengotori jiwanya — sebuah diagnosis yang menaruh interior manusia di pusat. Riwayat dalam Sahih Muslim 2673a pun menautkan lenyapnya ilmu bukan pada terhapusnya data, melainkan pada menyusutnya orang berilmu yang beradab. Namun lensa ini punya celah yang jujur harus diakui: ia berdiri atau runtuh pada keteladanan para pengembannya. Ketika sebagian yang paling lekat dengan simbol agama justru gagal menampilkan adab, daya persuasi lensa ini melemah di mata yang skeptis. Pertanyaan yang tersisa: dengan apa sebuah tradisi nilai membuktikan klaimnya, selain lewat kualitas manusia yang benar-benar dihasilkannya?
Dari empat lensa itu, ada beberapa hal yang bisa dicoba di ruang kampus tanpa menunggu reformasi besar. Di kelas dan lab, integritas akademik bisa dijaga dari hal kecil: menolak joki tugas, menuliskan sumber dengan jujur, dan tidak menormalkan budaya menyontek yang sering dianggap sepele. Di kos dan kantin, kelompok baca kecil bisa dibentuk untuk membahas bukan hanya materi teknis, tetapi juga etika profesi yang akan digeluti. Program mentoring adik tingkat bisa diarahkan agar bukan sekadar transfer contekan soal ujian, melainkan penularan cara belajar yang lurus. Di magang, kejujuran melaporkan hasil — termasuk mengakui yang belum selesai — adalah latihan amanah yang paling nyata. Dan di ruang digital, memilih untuk tidak ikut menyebar olok-olok atau konten kosong adalah bentuk tanggung jawab intelektual yang jarang dihargai tetapi berdampak. Satu kebiasaan reflektif yang murah namun jarang dilakukan: menyisihkan beberapa menit tiap pekan untuk menimbang bukan hanya "sudah belajar apa", tetapi "sudah menjadi apa".
Pada akhirnya, tulisan ini tidak menyodorkan rumus penutup. Yang tampak justru sebaliknya: lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas, selalu ada lensa lain yang menyingkap celahnya. Barangkali variabel yang paling sering luput dari keempatnya adalah yang paling sukar diukur — keadaan interior seseorang ketika tak ada yang mengawasi. Dan mungkin di situlah, bukan di angka atau regulasi, letak pertanyaan yang sesungguhnya belum selesai kita jawab.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini sebenarnya masalah sistem, bukan personal? Kenapa bebannya ditimpakan ke individu?
ASebagian benar — sistem yang buruk memang memproduksi kegagalan secara massal, dan menyalahkan individu semata bisa menjadi pengalih. Tetapi dikotomi sistem-versus-individu itu sendiri menyesatkan. Sistem dijalankan oleh individu; regulasi antikorupsi tetap bocor bila para pelaksananya tak amanah. Keduanya berjalan bersama: perbaikan struktur menutup celah kesempatan, sementara pembentukan karakter menutup celah kehendak. Meniadakan salah satu membuat yang lain rapuh.
- Q · 02
Kenapa harus agama yang mengurusi soal ini? Bukankah etika sekuler juga menyediakan kerangka moral?
ABetul, etika sekuler menyediakan kerangka yang serius dan sering canggih. Poin tulisan ini bukan meniadakannya, melainkan menghadirkan tradisi Islam sebagai satu lensa analitis di antara yang lain. Nilai tawarannya terletak pada penekanan bahwa pengetahuan dan penyucian batin adalah satu paket, bukan dua urusan terpisah. Kerangka mana pun tetap diuji pada pertanyaan yang sama: apa yang menahan seseorang berbuat salah saat pengawasan absen?
- Q · 03
Apa bedanya keluhan "krisis adab" ini dengan nostalgia tiap generasi tua yang selalu merasa generasi muda makin rusak?
APerbedaannya terletak pada bukti spesifik, bukan perasaan umum. Nostalgia bersandar pada kesan; analisis bersandar pada gejala yang bisa ditunjuk — kasus konkret, celah kelembagaan, pola perilaku yang terdokumentasi. Kritik yang sehat justru harus waspada terhadap bias romantis masa lalu. Karena itu klaim "krisis" hanya sah bila disertai indikator yang bisa diperiksa, bukan sekadar kesimpulan bahwa "dulu lebih baik".
- Q · 04
Kalau tazkiyah sepenting itu, kenapa justru banyak yang tampak religius terlibat dalam kasus?
AJustru itu bukti bahwa religiositas simbolik berbeda dari penyucian jiwa yang sesungguhnya. Renungan tentang iblis yang beribadah namun sombong menangkap paradoks ini dengan tepat: ritual dan pengetahuan bisa berjalan tanpa perubahan hati. Fakta bahwa sebagian yang religius gagal bukan membatalkan tesis, melainkan menegaskannya — bahwa adab dan tazkiyah adalah kerja interior yang tidak selesai hanya dengan atribut lahiriah.
- Q · 05
Untuk seseorang yang tidak menjalankan ibadah, apakah kerangka ini masih relevan?
ARelevansinya tetap ada pada level diagnosis. Bahkan tanpa komitmen ritual, pertanyaan inti tulisan ini berlaku universal: apakah pengetahuan yang dimiliki membuat seseorang lebih adil dan lebih bisa dipercaya, atau justru lebih pandai membenarkan diri? Kerangka religius menawarkan satu jalan menjawabnya; menolak jalan itu tidak menghapus pertanyaannya. Pertanyaan tentang integritas interior tidak menunggu izin keyakinan tertentu untuk menjadi penting.
