Dakwah-Lens
BriefingDiskusiPustaka KitabGaleri Flyer
Dakwah-LensMembantu para da'i dengan insights media berbasis AI. Sebuah inisiatif nirlaba dari Sukses & Berkah Group.

Produk

BriefingCara KerjaPustaka KitabDonasi

Tautan

Tentang KamiKontakPrivasiKetentuan
© 2026 Sukses & Berkah GroupDakwah-Lens
dakwah-lens.id
Mahasiswa PackKonflik & GeopolitikKamis, 30 Juli 2026

“Kalau kepedulian kita naik-turun mengikuti tren, apakah itu solidaritas atau sekadar suasana hati kolektif?

Diskusi terbuka. Boleh kamu setujui, boleh kamu bantah — yang penting kamu pikir.

"Empat Lensa Membaca Solidaritas"

Ada pola yang berulang setiap kali konflik jauh memuncak. Ketika kabar tentang tempat ibadah yang dibakar dan Al-Aqsa yang diterobos memenuhi lini masa, gelombang kepedulian naik dengan cepat: unggahan, komentar, perdebatan. Lalu, dalam hitungan hari, gelombang itu surut hampir sama cepatnya — volume percakapan pekan ini bahkan anjlok tajam dibanding pekan sebelumnya. Fenomena ini menyisakan pertanyaan yang tidak nyaman bagi mahasiswa yang terbiasa berpikir kritis: apakah yang kita sebut "solidaritas" itu sebuah komitmen, atau sekadar reaksi emosional yang tunduk pada siklus perhatian? Untuk membedahnya, isu ini bisa dibaca lewat empat lensa yang saling melengkapi sekaligus saling menelanjangi kelemahan.

Lensa pertama, dari hubungan internasional dan realisme geopolitik. Lensa ini membaca pernyataan kepala negara yang menegaskan posisi tidak berpihak pada blok mana pun namun menyatakan kemerdekaan Palestina tidak bisa ditawar sebagai kalkulasi rasional sebuah kekuatan menengah: menjaga otonomi sambil merawat legitimasi moral di mata publik domestik. Implikasinya, sikap moral menjadi instrumen diplomasi yang sah. Tetapi celah lensa ini terbuka lebar: retorika moral tanpa daya tekan ekonomi atau militer mudah berhenti sebagai simbol. Pertanyaan yang muncul: pada titik mana sebuah pernyataan solidaritas berubah menjadi pembenaran atas ketidakmampuan bertindak?

Lensa kedua, dari ekonomi politik global. Lensa ini menaruh konflik di atas peta yang lebih besar — peta di mana informasi pasar, harga energi, dan aliran modal dikendalikan oleh segelintir pihak yang berkuasa, sementara warga biasa di banyak negeri menghitung bahwa memiliki rumah layak butuh berpuluh tahun kerja. Dari sini, solidaritas dibaca sebagai persoalan struktur, bukan sekadar sentimen: sebuah masyarakat yang tidak berdaulat secara ekonomi sulit berdaulat secara moral di panggung dunia. Namun celah lensa ini adalah reduksionisme — ia berisiko menyusutkan seluruh persoalan menjadi angka dan kepentingan material, seolah kewajiban membela yang tertindas hanya berlaku bila terjangkau anggaran. Pertanyaannya: apakah keadilan menunggu kemakmuran, atau justru mendahuluinya?

Lensa ketiga, dari sosiologi gerakan sosial. Lensa ini menyoroti anatomi perhatian kolektif: mengapa kepedulian daring memuncak lalu meredup, bagaimana algoritma memberi imbalan pada kemarahan ketimbang ketekunan, dan bagaimana memori kolektif atas geografi suci — dalam hal ini keterikatan pada Al-Aqsa — mampu mempertahankan identitas sebuah komunitas melintasi generasi. Implikasinya, solidaritas yang bertahan bukan yang paling nyaring, melainkan yang paling terlembaga dan terwariskan. Tetapi celah lensa ini juga nyata: identitas yang dirawat lewat simbol dapat merosot menjadi performativitas — peduli demi terlihat peduli — atau bahkan menjadi tribalisme yang menutup empati pada penderitaan di luar kelompok sendiri. Pertanyaan yang menggantung: bagaimana membedakan solidaritas yang mengubah perilaku dari solidaritas yang hanya menghias citra?

Lensa keempat, dari teologi dan etika Islam. Di sini prinsip ukhuwah dan konsep mustadh'afin — mereka yang dilemahkan dan tertindas — berfungsi sebagai lensa analitis, bukan vonis yang menutup diskusi. Keterikatan pada Al-Aqsa, yang dalam tradisi terekam lewat peristiwa Isra dan Mi'raj sebagaimana dirangkum dalam 'Aqidat al-'Awam — بيت 46-50, memberi solidaritas sebuah akar yang lebih tua daripada politik kontemporer: ia bagian dari memori keimanan. Dan etika ini menolak solidaritas yang selektif; nasihat yang diriwayatkan dari Ibn 'Abbas dalam Nashaihul Ibad — باب السباعي (2/2) tentang memilih kesadaran yang menyadarkan di atas kesenangan yang melalaikan menantang kenyamanan seorang penonton yang berduka sejenak lalu kembali larut dalam hiburan. Dari lensa ini, membela yang tertindas — di Palestina maupun para pekerja migran yang dieksploitasi di perantauan — adalah kewajiban kolektif, fardh kifayah, bukan pilihan rasa. Celahnya: kewajiban teologis semacam ini menuntut konsistensi yang jauh melampaui kapasitas emosional kebanyakan orang, sehingga mudah berubah menjadi rasa bersalah yang melumpuhkan alih-alih menggerakkan.

Dari sini, langkah praktis bagi mahasiswa tidak perlu muluk. Di kampus, energi solidaritas bisa dilembagakan agar tidak menguap: mengubah kepedulian musiman menjadi program rutin unit kegiatan — misalnya penggalangan berkala yang disalurkan lewat lembaga kemanusiaan terpercaya, bukan aksi sekali ramai. Di ruang kelas dan diskusi jurusan, literasi terhadap konflik bisa ditingkatkan dengan membiasakan verifikasi sumber sebelum menyebarkan klaim, sebab menambah kabar keliru bukanlah bentuk pembelaan. Di lingkaran pertemanan, kepedulian pada yang jauh perlu diseimbangkan dengan perhatian pada yang dekat — termasuk teman perantauan atau pekerja migran di sekitar kos yang rentan. Dan pada level pribadi, doa yang konsisten tetap relevan bahkan bagi yang skeptis pada efektivitasnya, karena ia setidaknya menjaga hati agar tidak mengeras oleh kelelahan.

Pada akhirnya, tidak ada satu lensa pun yang memadai sendirian. Realisme geopolitik menjelaskan batas kekuasaan tetapi bisa memaafkan kepasifan; ekonomi politik menyingkap struktur tetapi bisa melupakan kewajiban; sosiologi memetakan perhatian tetapi bisa berhenti pada citra; teologi memberi akar dan arah tetapi menuntut lebih dari yang sanggup ditanggung banyak orang. Yang penting mungkin bukan memilih satu lensa sebagai pemenang, melainkan menyadari bahwa lensa apa pun yang dijadikan prioritas akan selalu menyisakan celah yang hanya bisa ditutup oleh lensa yang lain.

Pertanyaan

  1. Q · 01

    Bukankah solidaritas jarak jauh pada dasarnya cuma pelipur lara untuk mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa? —

    A

    Sebagian benar; unggahan sesaat memang bisa berfungsi sebagai katup emosi belaka. Tetapi kesimpulan bahwa karena itu solidaritas jarak jauh sia-sia terlalu tergesa. Tekanan opini publik yang terlembaga secara historis memengaruhi kebijakan dan pendanaan kemanusiaan. Yang membedakan pelipur lara dari daya nyata adalah keterlembagaan dan konsistensinya, bukan jaraknya.

  2. Q · 02

    Kenapa konflik teritorial harus dibingkai dengan agama? Bukankah itu justru memperkeruh dan menutup ruang solusi rasional? —

    A

    Kekhawatiran ini masuk akal, sebab agama memang bisa dipakai untuk memobilisasi kebencian. Namun membingkai dengan etika keagamaan tidak identik dengan sektarianisme. Kerangka seperti pembelaan atas yang tertindas justru bersifat lintas-batas dan menolak dehumanisasi. Persoalannya bukan ada-tidaknya bingkai agama, melainkan apakah bingkai itu memperluas empati atau mempersempitnya.

  3. Q · 03

    Bukankah posisi "tidak berpihak tapi berpihak" itu sekadar cari aman dan tidak konsisten secara logis? —

    A

    Ketegangan itu nyata dan layak dikritik. Tetapi dalam praktik diplomasi, otonomi strategis dan komitmen moral pada satu isu tertentu bukan hal yang mustahil hidup berdampingan. Yang perlu diawasi secara kritis adalah apakah garis moral itu diikuti tindakan nyata, atau berhenti sebagai retorika. Inkonsistensi baru menjadi masalah serius ketika ia menjadi alasan permanen untuk tidak berbuat.

  4. Q · 04

    Kalau semua perbuatan toh akan dihisab di akhirat, apa urgensinya bertindak sekarang di dunia? —

    A

    Logika ini justru terbalik dari maksud ajarannya. Keyakinan pada perhitungan akhir dalam tradisi Islam bukan alasan untuk menunda, melainkan justru pendorong tanggung jawab di dunia, karena tindakan sekarang adalah yang dihisab. Kepastian keadilan akhir berfungsi menahan keputusasaan, bukan melumpuhkan usaha. Ia menopang ketekunan, bukan menggantikannya.

  5. Q · 05

    Mengapa kepedulian pada Palestina begitu ramai, sementara nasib pekerja migran yang dieksploitasi nyaris sepi? Bukankah itu bukti solidaritas kita munafik? —

    A

    Ketimpangan perhatian itu memang menyingkap selektivitas, dan kritik itu sehat untuk direnungkan. Namun label munafik terlalu menyederhanakan; sebagian besar disebabkan oleh cara isu dikemas dan disebarkan, bukan semata kebusukan niat. Justru kesadaran atas timpangnya perhatian ini bisa menjadi koreksi — solidaritas yang matang mengukur dirinya dari yang paling terlupakan, bukan dari yang paling ramai.

Dakwah-Lens — Briefing Mingguan untuk Dakwah Indonesia

Konten ini AI-assisted, BUKAN fatwa otoritatif. Tanggung jawab keagamaan tetap pada penyusun konten dakwah.

Lihat Briefing Mingguan

Diskusi Terbuka

Tulis pikiranmu — setuju, ragu, atau bantah. Kami tidak menghakimi.

Komentar disaring otomatis. Konten umpatan, kata kotor, ajakan judi online (judol / slot / gacor), iklan pinjol, link mencurigakan, atau gibberish akan ditahan.

0/500
  • Belum ada yang berdiskusi. Jadilah yang pertama.
Ruang diskusi lain

Lanjut ngobrol di ruang lain

Setiap pekan kami menerbitkan beberapa ruang diskusi mahasiswa. Pilih yang paling menarik — boleh kamu setujui, boleh kamu bantah.

  • TEKNOLOGI & AIBaru

    “Kalau sebuah negara jadi pabrik kecerdasan buatan dunia, siapa yang menulis spesifikasinya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PEKERJA & PERTANIAN RAKYATBaru

    “Kalau bantuannya sudah sampai, kenapa yang lapar masih lapar dan yang haus masih haus?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • INSPIRASI & KISAH PRIBADIBaru

    “Kalau info tercepat soal bencana datang dari akun fanbase bus kota, siapa sebenarnya yang layak dipercaya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PENDIDIKAN & SDMBaru

    “Kalau pendidikan bisa dibeli, siapa yang menanggung kerugian ketika penjualnya berhenti di tengah jalan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PATOLOGI SOSIAL DIGITALBaru

    “Kalau semua orang sudah tahu bandar selalu menang, kenapa antreannya justru makin panjang?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • AQIDAH & IBADAHBaru

    “Kalau agama itu diterima dan bukan dirancang, kenapa tiap kubu merasa punya versinya sendiri?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • KONFLIK & GEOPOLITIKBaru

    “Kalau perang itu jauh, kenapa yang paling ramai justru yang paling ringan isinya?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • SOSIAL & KELUARGABaru

    “Kalau alasan menunda punya anak adalah biaya, kenapa rumah yang mapan pun banyak yang retak?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • EKONOMI & BISNISBaru

    “Kalau harga adalah urusan pasar, kenapa menaikkannya saat orang panik tetap terasa seperti kejahatan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • LINGKUNGAN & BENCANABaru

    “Kalau semua orang ikut berduka minggu ini, kenapa yang paling menderita justru paling sedikit ditonton?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • PEMERINTAHAN & KEBIJAKANBaru

    “Kalau sebuah keluarga hilang dari daftar, apakah kemiskinannya ikut hilang dari kenyataan?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • KESEHATAN & KEHIDUPANBaru

    “Kalau niat programnya baik dan anggarannya ada, kenapa yang sampai ke piring anak bisa tetap salah?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka
  • HUKUM & KEADILANBaru

    “Kalau berkasnya belum lengkap, kenapa kolom komentar sudah punya vonis?

    0 komen·belum ada komen
    10 Sep 2026Buka