"Empat Lensa Membaca Pendidikan Hari Ini"
Dalam sepekan terakhir, tiga jenis kabar muncul berdampingan di ruang publik dan, bila dibaca berbarengan, menyusun sebuah teka-teki. Di satu sisi, muncul keprihatinan tentang keamanan di lingkungan sekolah — dari perundungan sampai dugaan pelecehan terhadap siswi yang sedang magang. Di sisi lain, ada fenomena remaja yang memilih mencurahkan isi hati kepada kecerdasan buatan, sampai organisasi profesi kedokteran anak perlu mengingatkan bahwa mesin tak boleh menggantikan pendamping manusia. Di sisi ketiga, terdengar seruan agar pembentukan karakter tidak dikalahkan oleh kecanggihan alat. Ketiganya menunjuk pada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan secara terbuka: sebenarnya, untuk apa pendidikan itu ada? Sebelum menjawab, ada baiknya persoalan ini dibaca melalui beberapa lensa yang saling menguji.
Lensa pertama datang dari ekonomi pendidikan. Dalam kerangka ini, sekolah adalah mesin pembentuk modal manusia: ia membekali individu dengan keterampilan yang laku di pasar kerja, dan keberhasilannya diukur dari daya serap lulusan serta kontribusi ekonominya. Implikasinya rapi dan terukur — kurikulum diarahkan ke kompetensi, dan nilai menjadi sinyal produktivitas. Namun celah lensa ini segera terlihat: ia memperlakukan manusia sebagai input produksi, dan mengabaikan segala yang tak bisa ditimbang oleh angka — kejujuran, empati, keberanian membela yang lemah. Pertanyaan yang muncul: jika pendidikan hanya mencetak pekerja yang efisien, siapa yang mencetak manusia yang adil?
Lensa kedua berangkat dari sosiologi institusi. Sekolah, magang, dan tempat belajar adalah ruang sosial yang seharusnya melindungi mereka yang paling lemah di dalamnya. Kabar pekan ini menunjukkan bahwa ruang itu bisa berubah menjadi tempat paling rawan justru karena ketimpangan kuasa antara yang dewasa dan yang belia. Implikasinya, keamanan bukan pelengkap melainkan prasyarat: tanpa rasa aman, proses belajar mustahil berlangsung. Tetapi celah lensa ini adalah godaan untuk menjawab masalah dengan menambah pengawasan, aturan, dan kamera — seolah kepercayaan bisa digantikan oleh kontrol. Pertanyaan yang mengganjal: dapatkah kultur pengawasan yang ketat menggantikan kultur kepedulian yang tulus, atau justru mematikannya?
Lensa ketiga muncul dari epistemologi dan teknologi. Kecerdasan buatan menjanjikan akses ke jawaban tanpa perantara: cukup mengetik, dan penjelasan meluncur. Implikasinya menggoda — pengetahuan seakan terdemokratisasi, lepas dari otoritas guru. Namun celah lensa ini paling halus sekaligus paling dalam: informasi bukanlah ilmu. Dalam tradisi keilmuan Islam, ilmu selalu datang bersama adab dan keteladanan; ia menular dari seorang yang berilmu kepada muridnya, lengkap dengan sakinah dan waqar yang tak dapat diunduh. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim menegaskan bahwa yang diwarisi dari para nabi bukan sekadar data, melainkan ketenangan dan kewibawaan akhlak. Sebuah mesin dapat menyusun kalimat yang benar tanpa pernah memahami satu pun maknanya. Pertanyaan yang tersisa: jika jawaban bisa diproduksi tanpa pemahaman, apakah kita sedang memperbanyak pengetahuan atau justru mengeroposkannya?
Lensa keempat bersandar pada teologi niat. Tradisi Islam meletakkan pertanyaan "untuk apa" di jantung pendidikan: ilmu dituntut untuk mendekat kepada Allah, untuk diamalkan, dan untuk menghidupkan kebaikan — bukan untuk kedudukan dan pujian. QS. Al-Alaq: 5 mengingatkan bahwa pengetahuan pada dasarnya adalah pemberian, bukan pencapaian, sehingga ia menuntut kerendahan hati, bukan kesombongan. Implikasinya radikal: keberhasilan pendidikan diukur dari kualitas batin — niat, adab, kepedulian — bukan semata dari capaian lahir. Tetapi celah lensa ini nyata: niat bersifat tak terlihat dan mudah dipalsukan menjadi pertunjukan. Pertanyaan penutup yang menggantung: mungkinkah sebuah sistem yang dibangun di atas pengukuran menampung tujuan yang justru tak terukur?
Dari empat lensa itu, tampak bahwa kegelisahan pekan ini bukan tentang teknologi versus tradisi, melainkan tentang apa yang hilang ketika pendidikan direduksi menjadi satu dimensi saja. Ada langkah-langkah kecil yang bisa dicoba di kampus. Di ruang belajar, membentuk lingkar diskusi kecil yang tidak hanya mengejar nilai tetapi juga membahas etika dari materi yang dipelajari akan mengembalikan dimensi adab yang sering hilang. Ketika memakai kecerdasan buatan untuk tugas, memperlakukannya sebagai alat bantu yang tetap harus diverifikasi ke dosen atau sumber manusia, bukan sebagai otoritas final, menjaga agar keterampilan berpikir tidak tumpul. Bagi mahasiswa senior, meluangkan waktu menjadi mentor bagi adik tingkat — atau bahkan bagi pelajar sekolah di sekitar kos — menghidupkan kembali mata rantai ilmu dari manusia ke manusia. Dan di tengah semua itu, memperlakukan mahasiswa atau pelajar yang lebih lemah, lebih lambat, atau lebih rentan dengan perlindungan alih-alih perundungan adalah bentuk paling konkret dari pendidikan yang menjaga.
Pada akhirnya, mungkin yang terpenting bukan menemukan satu jawaban final atas "untuk apa pendidikan ada", melainkan menyadari bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas akan selalu menyisakan celah yang hanya bisa ditutup oleh lensa lain. Pendidikan yang hanya ekonomis kehilangan jiwa; yang hanya protektif kehilangan kepercayaan; yang hanya teknologis kehilangan makna; dan yang hanya batiniah kehilangan pijakan. Barangkali di persimpangan keempatnya itulah pendidikan yang utuh diam-diam menunggu untuk dirawat.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini masalah sistem pendidikan yang rusak, bukan soal individu? Kenapa selalu diarahkan ke tanggung jawab personal?
APushback ini sebagian benar — banyak persoalan memang struktural dan tak selesai dengan niat baik individu. Tetapi membenturkan "sistem" dan "individu" sebagai pilihan tunggal justru menyesatkan. Sistem tersusun dari keputusan-keputusan kecil orang di dalamnya; guru yang memilih hadir, mahasiswa yang menolak menyontek, semuanya mengubah tekstur sistem itu. Kritik struktural dan tindakan personal bukan lawan, melainkan dua tuas yang menggerakkan hal yang sama.
- Q · 02
Kenapa urusan pendidikan modern harus dibawa-bawa ke agama? Bukankah itu dua ranah berbeda?
AAnggapan bahwa keduanya terpisah rapi sebenarnya sebuah asumsi, bukan fakta netral. Setiap sistem pendidikan diam-diam memuat jawaban atas "manusia macam apa yang ingin dibentuk" — dan itu pertanyaan nilai, bukan pertanyaan teknis. Tradisi agama menawarkan satu jawaban tua dan teruji atas pertanyaan itu. Ia tidak harus diterima bulat-bulat, tetapi mengabaikannya sama saja menutup satu sumber refleksi yang justru relevan.
- Q · 03
"Adab" dan "karakter" itu kabur dan subjektif. Siapa yang berhak menentukan isinya?
