"Bisa Berbeda Tanpa Saling Menghina?"
Sebuah video seorang perempuan muslimah yang dianiaya di jalanan Kanada sambil dibentak "kembali ke negaramu" beredar dan memicu kemarahan lintas negara. Yang menarik, kemarahan itu justru banyak datang dari warga setempat yang bukan muslim. Peristiwa ini menyodorkan sebuah paradoks yang jarang kita bahas dengan jujur di ruang kampus: intoleransi paling brutal sering dilakukan oleh orang yang paling yakin bahwa dirinya benar, sementara pembelaan paling tulus kadang datang dari orang yang secara keyakinan berseberangan dengan korban. Maka pertanyaannya bukan "siapa yang benar", melainkan "bagaimana sebuah masyarakat bisa menampung banyak klaim kebenaran tanpa saling memangsa". Ini bukan pertanyaan sepele, dan jawaban instan seperti "yang penting toleransi" justru menghindari inti persoalannya.
Lensa pertama, dari filsafat moral: toleransi sejati mensyaratkan keyakinan, bukan ketiadaannya. Orang yang berkata "semua agama sama saja" sebenarnya tidak sedang bertoleransi — ia hanya sedang tidak peduli. Toleransi baru bermakna ketika seseorang sungguh yakin pihak lain keliru, namun tetap memilih menghormati hak orang itu untuk keliru menurut ukurannya sendiri. Implikasinya, keyakinan yang kuat bukan musuh koeksistensi, melainkan syaratnya. Tetapi celah lensa ini muncul: jika toleransi butuh keyakinan kuat, bukankah ia rapuh di hadapan orang yang keyakinannya kuat sekaligus agresif? Pertanyaan yang menggantung: apa yang menahan keyakinan kuat agar tidak berubah menjadi dominasi?
Lensa kedua, dari sosiologi: yang meledak menjadi kekerasan bukanlah perbedaan itu sendiri, melainkan rasa terancam. Kelompok yang merasa identitasnya sedang dikepung cenderung menutup diri dan memandang liyan sebagai bahaya. Implikasinya, meredakan intoleransi sering kali soal meredakan ketakutan kolektif, bukan sekadar mengajarkan dogma toleransi. Namun celahnya: pendekatan ini bisa terjebak relativisme — seolah semua kekerasan bisa dimaklumi asal ada "rasa terancam" yang melatarinya. Pertanyaannya: di mana garis antara memahami akar sosial sebuah kebencian dan memberinya pembenaran?
Lensa ketiga, dari teologi Islam sebagai kerangka analitis: tradisi ini menyediakan konsep yang jarang diperhatikan, yaitu adab al-inshaf — sikap adil dalam berbeda. Kitab Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / التاسع menekankan agar seseorang konsisten bersikap adil dalam pembahasan, mau mendengar pihak lain apa adanya walau ia kecil atau lemah, dan tidak menyombongkan diri untuk menyimaknya. Di sini toleransi bukan soal melunakkan kebenaran, melainkan soal etika mendengarkan. Implikasinya, perbedaan dikelola lewat mutu perjumpaan, bukan lewat pengingkaran identitas. Celah lensa ini: adab semacam ini menuntut kedewasaan yang tidak bisa dipaksakan lewat aturan; ia hanya tumbuh dari karakter. Pertanyaannya: bisakah sebuah masyarakat memproduksi kedewasaan itu secara massal, atau ia selalu menjadi milik segelintir orang?
Lensa keempat, dari epistemologi kerendahan hati: kitab yang sama, pada bagian Adab al-'Alim wa al-Muta'allim — الباب الثاني في أدب العالم في نفسه ومراعاة طالبه ودرسه / العاشر, memuji keberanian mengatakan "la adri" — "aku tidak tahu" — dan menyebut keengganan mengucapkannya sebagai tanda lemahnya agama dan tipisnya ilmu. Ini mengejutkan: tradisi yang sering dituduh dogmatis justru menempatkan pengakuan atas batas pengetahuan sebagai keutamaan. Implikasinya, fanatisme sering lahir bukan dari terlalu banyak ilmu, melainkan dari ketakutan mengakui bahwa ada yang tidak kita ketahui. Celahnya: kerendahan epistemik bisa disalahgunakan menjadi keraguan yang melumpuhkan, sehingga orang tak berani menegaskan apa pun. Pertanyaan penutup lensa: bagaimana menahan diri untuk tidak tahu segalanya, tanpa kehilangan pijakan pada yang memang sudah jelas?
Dari empat lensa itu, apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa hari ini, secara konkret? Di grup angkatan, ketika sebuah kabar tentang kelompok lain beredar, tahan jempol sebelum meneruskannya, dan biasakan bertanya sumbernya. Di ruang diskusi jurusan, latih diri mendengarkan argumen lawan sampai tuntas sebelum menyusun bantahan — bukan menyiapkan serangan sambil pura-pura mendengar. Di kos yang penghuninya beragam latar, jadikan perbedaan itu bahan obrolan yang jujur, bukan topik yang dihindari dengan kaku. Saat menulis di media sosial, bedakan antara mengkritik gagasan dan menghina orang; yang pertama sehat, yang kedua merusak. Dan ketika berhadapan dengan pertanyaan yang belum bisa dijawab, berlatihlah mengucapkan "aku belum tahu, aku cari dulu" — kalimat kecil yang menyelamatkan banyak perdebatan dari kebuntuan.
Pada akhirnya, persoalan koeksistensi tidak selesai dengan menemukan rumus siapa yang paling benar. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa setiap posisi — entah yang mengutamakan keyakinan, yang mengutamakan rasa aman sosial, yang mengutamakan adab, atau yang mengutamakan kerendahan epistemik — selalu meninggalkan satu celah yang ditutupi oleh posisi lainnya. Mungkin justru di kesadaran atas celah itulah kedewasaan bermula: bukan pada rasa paling tahu, melainkan pada kesediaan untuk terus memeriksa diri sambil tetap berpijak pada yang kita yakini.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukankah ini cuma masalah oknum, kenapa harus dibesar-besarkan jadi bahasan filosofis?
AMenyebut "oknum" memang benar secara statistik, tapi berhenti di situ membuat kita gagal melihat pola. Kekerasan oknum biasanya tumbuh di ekosistem wacana yang sudah lama menormalkan prasangka. Membedah kerangka berpikirnya bukan membesar-besarkan, melainkan mencegah — karena benih yang sama bisa tumbuh di komunitas mana pun, termasuk kita.
- Q · 02
Kalau kita akui semua posisi punya celah, bukankah itu ujung-ujungnya relativisme?
ATidak harus. Mengakui bahwa argumen kita punya keterbatasan berbeda dari mengatakan semua argumen sama benarnya. Yang ditawarkan di sini adalah kerendahan hati intelektual, bukan penyerahan pada "apa saja boleh". Seseorang tetap bisa berpijak teguh pada keyakinan sambil sadar bahwa penalarannya tidak menjawab segalanya.
- Q · 03
Kenapa harus pakai kerangka agama untuk soal yang bisa dijelaskan sepenuhnya secara sekuler?
AKerangka agama di sini dipakai sebagai salah satu lensa analitis, bukan sebagai vonis. Faktanya, konsep seperti inshaf dan pengakuan "la adri" menawarkan kosa kata etika perjumpaan yang cukup kaya dan layak diuji, sama seperti kerangka sosiologi atau filsafat moral diuji. Menutup satu lensa hanya karena label sumbernya justru bukan sikap ilmiah.
- Q · 04
Bukankah menuntut korban dan mayoritas "mendengarkan" itu tidak adil, karena yang salah kan pelakunya?
ABetul, beban moral utama ada pada pelaku kekerasan, dan itu tidak boleh dikaburkan. Ajakan mendengarkan di sini bukan untuk korban, melainkan untuk kita yang berada di posisi mayoritas atau penonton — agar tidak menjadi pembibit prasangka berikutnya. Membela korban dan memeriksa diri bukan dua hal yang saling meniadakan.
- Q · 05
Kalau prinsip ini bagus, kenapa banyak orang beragama justru gagal mempraktikkannya?
AKarena prinsip dan praktik memang dipisahkan oleh karakter, dan karakter tidak terbentuk otomatis dari pengetahuan. Kegagalan sebagian pemeluk bukan bukti prinsipnya salah, melainkan bukti bahwa internalisasinya sulit. Yang bisa kita lakukan adalah berhenti menjadikan kegagalan orang lain sebagai alasan untuk ikut gagal.
