"Merdeka dari Penjajah, Terjajah Apa Lagi?"
Setiap tanggal 17 Agustus, linimasa media sosial dibanjiri filter merah putih, twibbon, dan video lomba tujuh belasan. Sehari kemudian, semuanya kembali seperti biasa — filter dilepas, twibbon dilupakan, linimasa kembali ke konten harian. Ada sesuatu yang janggal dari pola ini: perayaan kemerdekaan yang begitu masif secara visual, tetapi begitu singkat secara dampak. Pertanyaannya bukan soal kurang meriah atau tidaknya perayaan itu, melainkan soal apa sebenarnya yang sedang dirayakan — dan apakah yang dirayakan itu benar-benar telah selesai diperjuangkan.
Lensa pertama datang dari sosiologi kolektif. Émile Durkheim menyebut momen semacam ini sebagai collective effervescence — ritual tahunan yang menyatukan sebuah masyarakat lewat simbol bersama, memperkuat identitas kolektif dalam waktu singkat. Implikasinya, perayaan 17 Agustus berfungsi nyata sebagai perekat sosial, bukan sekadar seremoni kosong. Tetapi celah lensa ini jelas: ritual kolektif tidak menuntut perubahan perilaku yang bertahan; ia cukup dipenuhi lewat partisipasi simbolik semata — pakai baju merah putih, unggah twibbon, selesai. Pertanyaan yang muncul: kalau persatuan hanya hidup dalam ritual tahunan, seberapa dalam sebenarnya ia tertanam di luar tanggal 17 Agustus?
Lensa kedua datang dari ekonomi budaya konsumen. Momentum kemerdekaan, seperti banyak momentum historis lainnya, kini turut dikemas ulang menjadi bahan pemasaran — promo belanja "spesial kemerdekaan", diskon 17.17, merchandise bertema perjuangan. Implikasinya, narasi pengorbanan generasi 1945 turut diserap ke dalam logika konsumsi, di mana bahkan kritik terhadap komersialisasi itu sendiri bisa berubah menjadi konten yang dikonsumsi sesaat. Celahnya: kritik ini berisiko berhenti sebagai keluhan estetis semata, tanpa benar-benar mempersoalkan pola konsumsi yang lebih luas. Pertanyaannya: mungkinkah momentum apa pun — sesakral apa pun asal-usulnya — pada akhirnya selalu bisa diserap oleh logika pasar?
Lensa ketiga datang dari psikologi kognitif. Fenomena hedonic treadmill menjelaskan bahwa manusia cenderung cepat kembali ke titik kepuasan dasarnya, betapa pun besar nikmat yang diterima — termasuk nikmat paling mendasar seperti rasa aman dan kebebasan. Implikasinya, wajar jika generasi yang lahir dalam kondisi merdeka kesulitan merasakan syukur sedalam generasi yang pernah kehilangan kemerdekaan itu. Celahnya: penjelasan psikologis ini menerangkan kenapa rasa syukur memudar, tetapi tidak dengan sendirinya menyediakan cara untuk melawannya. Pertanyaannya: kalau otak manusia memang didesain untuk terbiasa dengan kenikmatan, adakah kerangka lain yang bisa menahan laju kebiasaan itu?
Lensa keempat datang dari etika Islam, ditempatkan di sini bukan sebagai jawaban final, melainkan sebagai kerangka pembanding. Dalam kerangka ini, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari kekuasaan luar, melainkan soal kepada siapa atau apa seseorang akhirnya tunduk setelah kebebasan itu diraih. QS. Az-Zumar: 66 — yang memerintahkan penghambaan hanya kepada Allah semata dan rasa syukur atas nikmat — dibaca di sini sebagai gagasan bahwa satu-satunya bentuk penghambaan yang tidak memperbudak adalah penghambaan kepada Allah; segala bentuk penghambaan lain — kepada validasi sosial, kepada algoritma, kepada standar konsumsi — pada akhirnya tetap memperbudak dengan cara yang lebih halus dan lebih sulit dikenali daripada penjajahan fisik. Celah lensa ini juga ada: mudah disalahpahami sebagai penolakan terhadap dunia material sepenuhnya, padahal yang dipersoalkan adalah prioritas, bukan penghapusan. Pertanyaannya: penjajahan seperti apa yang paling sulit dikenali justru karena ia tidak datang dengan bendera asing atau tentara bersenjata?
Empat lensa ini tidak saling meniadakan. Sosiologi menjelaskan fungsi ritualnya, ekonomi menjelaskan bagaimana ritual itu dikomersialkan, psikologi menjelaskan kenapa rasa syukur cepat pudar, dan etika menawarkan kerangka soal ke mana ketundukan itu sebaiknya diarahkan. Titik temunya: keempat lensa sepakat bahwa kemerdekaan yang hanya dirayakan secara simbolik — tanpa refleksi soal apa yang benar-benar dipertahankan atau justru diserahkan — berisiko menjadi kemerdekaan yang kosong.
Dari titik itu, ada beberapa langkah kecil yang bisa dicoba pekan ini, di tempat-tempat paling dekat. Di kos, satu malam tanpa scroll otomatis bisa jadi cara sederhana memeriksa siapa atau apa yang paling banyak "disembah" lewat waktu dan perhatian sehari-hari. Di kelas atau kelompok diskusi kampus, obrolan singkat soal peran ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan — bukan cuma tentara — bisa jadi pengingat bahwa perjuangan itu multi-front, termasuk front spiritual. Front ini juga yang paling personal: ukuran keislaman seseorang, dalam satu riwayat, ditentukan dari sejauh mana sesama merasa aman dari lisan dan tangannya (Sahih Muslim 42a) — relevan langsung dengan bagaimana perdebatan di ruang kelas atau media sosial kampus dijalankan, argumen boleh keras, tapi tidak boleh menyakiti. Di organisasi kemahasiswaan, kegiatan 17 Agustus bisa dirancang bukan sekadar lomba, tetapi juga sesi berbagi kepada sesama mahasiswa yang kesulitan finansial di akhir bulan — praktik kecil dari nikmat cukup yang dibagikan, bukan hanya dirayakan. Bahkan di level yang lebih sederhana, sekadar mencatat satu kebiasaan konsumsi yang selama ini berjalan otomatis tanpa disadari — langganan aplikasi yang jarang dipakai, pola belanja daring menjelang tanggal diskon tertentu — bisa jadi titik awal untuk memeriksa ulang siapa atau apa yang sebenarnya sedang diikuti tanpa banyak dipertanyakan.
Yang penting bukan menemukan jawaban final soal apa itu kemerdekaan sejati, melainkan menyadari bahwa setiap generasi mendefinisikan penjajahannya sendiri — dan pembebasan dari satu bentuk keterikatan sering kali membuka mata pada bentuk keterikatan lain yang jauh lebih halus untuk dikenali.
Pertanyaan
- Q · 01
Ini kedengarannya kayak bilang masalah struktural (ekonomi, korupsi, ketimpangan) itu kurang penting dibanding masalah spiritual — bukannya itu malah mengalihkan perhatian dari masalah yang lebih besar?
AKekhawatiran ini valid dan penting. Tapi argumen di atas bukan mengganti satu masalah dengan yang lain — empat lensa itu sengaja dipasangkan supaya sosiologi dan ekonomi tetap punya tempat. Lensa spiritual di sini menjelaskan salah satu alasan psikologis kenapa orang lelah dengan pola konsumsi tanpa henti, bukan menggantikan kebutuhan akan analisis dan perbaikan struktural itu sendiri.
- Q · 02
Kenapa harus pakai kerangka Islam buat ngomongin nasionalisme? Bukannya itu bikin eksklusif buat yang bukan muslim?
APoin ini masuk akal, dan itu sebabnya artikel ini memuat empat lensa berbeda, bukan cuma satu. Lensa keempat ditempatkan sebagai satu perspektif di antara beberapa, bukan kerangka tunggal yang wajib diterima semua pembaca — pembaca dari latar lain bisa berhenti di lensa sosiologi, ekonomi, atau psikologi dan tetap mendapat argumen yang utuh.
- Q · 03
Ini bukannya kritik terhadap komersialisasi cuma bungkus agama doang?
A
