"Ilmu untuk Kerja atau untuk Allah"
Pekan ini linimasa dipenuhi dua jenis unggahan yang sekilas tidak berhubungan. Satu unggahan memuji habis-habisan seorang mahasiswi ITB — kombinasi kecerdasan dan penampilan dirayakan sebagai sesuatu yang langka. Unggahan lain berupa pertanyaan yang jauh lebih cemas: jurusan apa yang paling gampang mengantarkan lulusannya bekerja. Dua unggahan ini sebenarnya bicara tentang hal yang sama — bagaimana ilmu, di tangan generasi hari ini, diam-diam sedang diukur ulang nilainya, bukan dengan pertanyaan "apa yang bisa dipahami", melainkan "apa yang bisa dihasilkan".
Lensa pertama datang dari ekonomi. Memilih jurusan berdasar prospek kerja adalah keputusan rasional di tengah pasar tenaga kerja yang kompetitif — bukan sesuatu yang perlu diributkan sebagai dosa. Implikasinya, kurikulum dan minat mahasiswa perlahan bergeser ke bidang yang dianggap "aman secara ekonomi". Tetapi celah lensa ini terlihat ketika semua orang mengoptimalkan hal yang sama: kalau semua orang memilih jurusan yang sama karena dianggap paling laku, siapa yang akan mengisi bidang-bidang yang justru dibutuhkan tapi kurang diminati? Pertanyaannya menjadi, rasional untuk siapa — individu atau masyarakat secara keseluruhan?
Lensa kedua datang dari sosiologi. Kekaguman viral pada mahasiswi berprestasi adalah bentuk status signaling — masyarakat memberi nilai sosial tinggi pada kombinasi kecerdasan dan kampus bergengsi. Implikasinya, prestasi akademik berubah jadi komoditas citra, dilihat sebagai identitas yang dipamerkan, bukan proses yang dijalani. Celahnya, status semacam ini gampang menciptakan hierarki di mana kampus dan jurusan tertentu dianggap lebih "berharga" dari yang lain, padahal kontribusi nyata seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan nama besar almamaternya. Kalau nilai seseorang ditentukan status kampusnya, bagaimana dengan yang berjuang di jurusan atau kampus yang tidak pernah viral?
Lensa ketiga datang dari psikologi. Riset tentang perbandingan sosial di media digital menunjukkan paparan konstan pada pencapaian orang lain memicu kecemasan dan keraguan diri, bukan motivasi murni. Implikasinya, keputusan besar seperti memilih jurusan bisa lahir dari rasa takut tertinggal, bukan dari pengenalan diri yang matang. Celahnya, kecemasan yang mendorong keputusan biasanya menghasilkan pilihan defensif, bukan pilihan yang benar-benar dipahami alasannya. Pertanyaannya, berapa banyak keputusan jurusan hari ini lahir dari ketakutan dibanding dari rasa ingin tahu yang tulus?
Lensa keempat datang dari sudut pandang keislaman, sebagai lensa analitis, bukan keputusan final. Prinsip amanah dalam Islam menempatkan ilmu sebagai titipan yang harus dipertanggungjawabkan, bukan semata aset pribadi. QS. At-Takwir: 26 mengingatkan dengan pertanyaan singkat tentang ke mana arah langkah kita sebenarnya — sebuah pertanyaan yang relevan ditanyakan pada setiap pilihan besar, termasuk jurusan kuliah. Implikasinya, mempertimbangkan manfaat ilmu bagi orang lain, bukan hanya bagi diri sendiri, bukan kemewahan spiritual tapi bagian dari tanggung jawab itu sendiri. Celahnya, lensa ini bisa disalahgunakan untuk meremehkan pertimbangan ekonomi yang sebenarnya nyata dan mendesak bagi banyak mahasiswa dari keluarga pas-pasan — amanah tidak berarti mengabaikan kebutuhan hidup.
Empat lensa ini tidak saling meniadakan; masing-masing menerangi satu sisi dari keputusan yang sama. Ada langkah-langkah kecil yang mungkin terasa nyata dalam keseharian kampus: di kos, menuliskan satu alasan memilih jurusan selain gaji, sesederhana apa pun bentuknya. Di kelas, sesekali melontarkan pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari ilmu yang sedang dipelajari, bukan cuma soal nilai ujian. Di organisasi kampus atau magang, mencari satu proyek yang manfaatnya terasa untuk orang di luar lingkaran sendiri, bukan cuma menambah portofolio. Langkah-langkah kecil semacam ini tidak mengubah pilihan jurusan yang sudah diambil, tetapi mengubah cara ilmu itu dijalani setelahnya.
Tidak ada jawaban final dari perdebatan ini. Yang penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar, melainkan menyadari bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas utama, akan selalu ada lensa lain yang menutupi celahnya. Barangkali justru di situ letak kedewasaan memilih: bukan pada keputusan akhirnya, tetapi pada kesediaan mempertanyakan ulang alasan di baliknya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya wajar kalau saya pilih jurusan yang gampang cari kerja? Saya butuh makan, bukan cuma butuh makna.
AWajar, dan tidak ada yang salah dengan mempertimbangkan itu. Yang dipertanyakan artikel ini bukan boleh-tidaknya, melainkan kalau itu jadi satu-satunya pertimbangan. Kebutuhan makan dan kebutuhan makna tidak harus saling meniadakan — keduanya bisa dipegang bersamaan tanpa harus memilih ekstrem salah satu.
- Q · 02
Apa hubungannya niat sama nilai IPK saya? Yang penting kan lulus dan dapat kerja.
ANiat memang tidak mengubah angka di transkrip. Tapi niat menentukan bagaimana ilmu itu dipakai setelah lulus — apakah cuma jadi modal individual, atau juga jadi sesuatu yang bermanfaat lebih luas. IPK mengukur penguasaan; niat menentukan arah penggunaannya.
- Q · 03
Ini kan masalah struktural ekonomi, kenapa dibawa-bawa ke soal spiritual segala?
AKeduanya tidak saling meniadakan. Struktur ekonomi yang membuat lapangan kerja terbatas itu nyata dan memang butuh solusi kebijakan. Tapi selama struktur itu belum berubah, individu tetap punya ruang kecil untuk memilih bagaimana bersikap di dalamnya — dan itu ranah yang dibicarakan di sini.
- Q · 04
ITB-flexing di Twitter itu kan cuma bercanda, kenapa dianggap serius amat?
ACandaan yang viral dan disukai jutaan orang biasanya mencerminkan sesuatu yang memang dipikirkan banyak orang, sekalipun dibungkus lucu-lucuan. Bukan berarti setiap candaan harus dibedah serius, tapi pola yang berulang di baliknya cukup layak diperhatikan.
- Q · 05
Saya nggak terlalu religius, apa masih relevan bahasan niat kayak gini buat saya?
ARelevan. Pertanyaan "untuk siapa ilmu ini saya kejar" bukan pertanyaan eksklusif milik orang yang taat beragama — siapa pun yang ingin hidupnya bermakna, bukan cuma produktif, pada akhirnya akan sampai pada pertanyaan yang sama, dengan bahasa apa pun mereka menyebutnya.
