"Empat Lensa Membaca Krisis Empati Layanan"
Pekan ini linimasa dipenuhi obrolan soal layanan kesehatan — sebagian orang berbagi konten edukasi kesehatan yang mencoba meluruskan mitos, sebagian lain mengenang program kesejahteraan lama yang katanya masih terasa manfaatnya, dan tidak sedikit yang menyuarakan kelelahan menghadapi birokrasi jaminan kesehatan serta pertanyaan soal sikap tenaga kesehatan yang dirasa kurang berempati. Di tengah itu, program pemberian makanan bergizi nasional juga sedang menghadapi giliran diperiksa publik lebih ketat. Yang menarik bukan konten mana yang benar, tapi pola yang muncul: kita hidup di negara di mana akses kesehatan dijamin di atas kertas, tapi pengalaman orang per orang terasa sangat berbeda-beda tergantung siapa yang bertanya, di mana ia tinggal, dan seberapa kuat ia bisa mengadvokasi dirinya sendiri.
Lensa pertama, dari ekonomi kesehatan. Sistem jaminan kesehatan nasional dirancang dengan prinsip gotong royong — yang sehat membantu subsidi yang sakit, lewat premi kolektif. Implikasinya, semakin banyak yang taat membayar dan semakin efisien pengelolaan dana, semakin kuat sistem menanggung yang membutuhkan. Tapi celah lensa ini: efisiensi sistem sering diukur dari angka anggaran, bukan dari pengalaman pasien yang antre berjam-jam atau ditolak rujukan. Pertanyaan yang muncul: kalau yang diukur cuma angka makro, siapa yang bertanggung jawab atas satu pasien yang merasa sistemnya jalan tapi dirinya sendiri tidak terlayani?
Lensa kedua, dari psikologi pelayanan. Tenaga kesehatan bekerja di bawah beban kerja yang sangat tinggi, sering dengan kompensasi yang tidak sebanding, sehingga kelelahan emosional adalah risiko nyata, bukan sekadar alasan. Implikasinya, sikap yang terkesan kurang berempati mungkin bukan soal karakter personal, melainkan gejala sistem yang menuntut terlalu banyak dari terlalu sedikit orang. Tapi celah lensa ini: menjadikan kelelahan sistemik sebagai penjelasan tunggal berisiko menghapus tanggung jawab personal sepenuhnya. Pertanyaan yang muncul: di titik mana kelelahan sistemik berhenti menjadi alasan yang sah, dan mulai menjadi pembenaran?
Lensa ketiga, dari teologi tanggung jawab kolektif. Islam menempatkan hifz an-nafs — menjaga jiwa — sebagai salah satu maqashid syariah paling mendasar, dan menjadikannya fardhu kifayah: kewajiban yang gugur dari individu hanya jika cukup orang lain sudah menanganinya. Implikasinya, kalau seorang tetangga sakit dan tidak terurus, itu bukan cuma kegagalan negara — itu juga menjadi beban tanggung jawab kolektif bagi lingkungan yang tahu tapi diam. Tapi celah lensa ini: prinsip fardhu kifayah bisa disalahgunakan sebagai alasan untuk tidak bertindak, "kan sudah ada yang lain yang urus." Pertanyaan yang muncul: bagaimana kita tahu kapan fardhu kifayah itu benar-benar sudah gugur, dan kapan itu cuma alasan untuk lepas tangan?
Lensa keempat, dari sosiologi kepercayaan publik. Kepercayaan pada institusi dibangun dari akumulasi pengalaman kecil yang konsisten, bukan dari kampanye sekali jadi. Implikasinya, satu pengalaman buruk yang viral bisa merusak kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun, sementara ribuan pengalaman baik jarang terekspos sama besarnya. Tapi celah lensa ini: kalau kita terlalu fokus menjaga citra institusi, kita berisiko mengabaikan validitas keluhan individu yang sebenarnya nyata. Pertanyaan yang muncul: bagaimana masyarakat bisa kritis terhadap sistem tanpa jatuh ke sinisme total yang membuat semua perbaikan terasa sia-sia?
Pada level mahasiswa, ada beberapa langkah konkret yang bisa dicoba pekan ini. Di kos atau kontrakan, mahasiswa dapat menyusun daftar kontak fasilitas kesehatan terdekat dan cara klaim BPJS yang benar — banyak masalah layanan kesehatan sebenarnya berasal dari ketidaktahuan prosedur, bukan cuma soal sistemnya buruk. Di organisasi kampus atau himpunan jurusan, mahasiswa dapat menginisiasi sesi berbagi informasi kesehatan dasar sebulan sekali, mengundang mahasiswa kedokteran atau kesehatan masyarakat sebagai narasumber, supaya mitos kesehatan yang beredar bisa diluruskan dari sumber yang kompeten. Bagi mahasiswa di jurusan kesehatan atau kedokteran, pekan ini menjadi waktu yang tepat untuk jujur bertanya ke diri sendiri: apakah kelelahan yang terlihat di tempat magang sudah dinormalisasi terlalu cepat? Dan untuk semua mahasiswa, hal paling sederhana: menengok kabar satu teman seangkatan yang diketahui sedang sakit atau baru keluar rumah sakit — bukan lewat status WhatsApp, tapi lewat pesan langsung.
Yang penting bukan menentukan lensa mana yang paling benar — ekonomi, psikologi, teologi, atau sosiologi — melainkan menyadari bahwa krisis kepercayaan pada layanan kesehatan tidak akan selesai lewat satu jenis analisis saja. Setiap lensa menerangi satu sisi dan menyembunyikan sisi lain. Mungkin justru di situ letak tugas kita: terus berpindah lensa, tanpa berhenti di satu sudut pandang yang terasa paling nyaman.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya masalah BPJS ini murni masalah kebijakan dan manajemen, bukan masalah moral atau agama?
ABetul, sebagian besar memang soal desain sistem dan manajemen anggaran — itu ranah kebijakan publik, bukan fikih. Tapi begitu sistem itu berhadapan dengan manusia yang sedang sakit dan lemah, pertanyaan tentang bagaimana kita memperlakukan sesama jadi relevan, terlepas dari siapa yang mengelola sistemnya. Agama tidak menggantikan kebijakan; agama mengisi ruang yang tidak bisa diisi kebijakan — kepedulian personal, kehadiran, empati harian.
- Q · 02
Kenapa harus bawa-bawa dalil segala buat ngomongin BPJS? Ini kan masalah teknis administrasi.
AKarena dalil di sini bukan dipakai untuk mengatur kebijakan administrasi BPJS, tapi untuk mengatur bagaimana individu Muslim bersikap di tengah sistem yang tidak sempurna. Fardhu kifayah menjenguk orang sakit tidak menunggu BPJS beres dulu. Dalilnya soal sikap kita, bukan soal cara mengelola dana kesehatan negara.
- Q · 03
Apa bedanya nasihat "jenguk orang sakit" ini dengan basa-basi generik yang semua agama juga ajarkan?
ATidak ada klaim bahwa ini eksklusif milik satu agama — kepedulian pada yang sakit memang nilai universal. Yang membuatnya berbeda di sini adalah kerangka fardhu kifayah-nya: bukan sekadar anjuran baik, tapi kewajiban kolektif yang bisa jadi beban tanggung jawab bersama kalau diabaikan semua orang. Itu memberi bobot yang lebih mengikat dibanding sekadar "kebaikan yang dianjurkan".
- Q · 04
Kalau kita jarang ke rumah ibadah, masih relevan nggak omongan soal fardhu kifayah dan hifz an-nafs ini?
ATetap relevan, karena kerangka ini bicara soal tindakan, bukan soal rutinitas ibadah ritual. Rutin ke masjid bukan syarat untuk bisa mengecek kabar teman yang sakit atau membantu tetangga yang kesulitan. Prinsipnya bisa dipraktikkan siapa saja yang mau, terlepas dari seberapa taat ritualnya — walau tentu keduanya idealnya berjalan beriringan.
- Q · 05
Bukannya menyalahkan kelelahan sistemik nakes sebagai "gejala sistem" itu cuma cara menghindar dari tanggung jawab personal?
APoin yang adil. Dua hal ini sebenarnya bisa benar sekaligus: sistem memang menekan nakes secara tidak manusiawi, dan setiap individu tetap punya ruang pilihan dalam merespons tekanan itu. Mengakui beratnya sistem bukan berarti menghapus akuntabilitas personal — tapi mengabaikan beratnya sistem juga membuat kritik personal jadi tidak adil dan tidak menyelesaikan apa-apa.
