"Ekonomi Perhatian yang Mengalahkan Empati"
Pekan ini, video-video tentang ketegangan Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz menembus ratusan ribu tayangan, lengkap dengan judul dramatis yang saling bertentangan. Di sisi lain linimasa, konten tentang Gaza dan solidaritas Palestina — sesuatu yang secara kemanusiaan jauh lebih berat — beredar dengan jangkauan yang jauh lebih kecil. Kesenjangan ini bukan kebetulan. Ia adalah gejala dari sistem yang lebih besar, dan gejala itu layak dibedah, bukan sekadar diratapi.
Lensa pertama, dari ekonomi perhatian digital: algoritma dirancang memaksimalkan waktu tonton, dan drama yang penuh ketidakpastian jauh lebih efektif memancing rasa penasaran dibanding penderitaan yang faktanya sudah "diketahui" khalayak. Implikasinya, konten paling dramatis menang bukan karena paling penting, tapi karena paling efektif memancing klik. Celahnya: logika ini membuat kita mengira volume percakapan mencerminkan urgensi moral, padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Pertanyaannya: kalau kita hanya mengikuti apa yang ramai, siapa yang sebenarnya menentukan apa yang pantas kita pedulikan?
Lensa kedua, dari psikologi sosial: manusia punya kecenderungan menyukai ketidakpastian yang bisa diselesaikan segera (siapa menang, siapa kalah) dibanding penderitaan struktural yang berlarut-larut tanpa jeda dramatis. Implikasinya, isu yang "menegangkan" terasa lebih layak diikuti daripada isu yang "menyedihkan" tapi stagnan. Celahnya: preferensi psikologis ini bisa memanipulasi prioritas moral kita tanpa kita sadari. Pertanyaannya: apakah kita peduli pada sesuatu karena bobot penderitaannya, atau karena kadar ketegangan naratifnya?
Lensa ketiga, dari fikih klasik: konsep fardhu kifayah — kewajiban kolektif yang gugur dari individu jika sudah ditunaikan sebagian umat — sering disalahpahami sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa, karena "pasti ada yang lain yang mengurus". Implikasinya, tanggung jawab kolektif justru bisa jadi tameng bagi kepasifan personal. Celahnya: fardhu kifayah menuntut bahwa cukup banyak orang benar-benar menunaikannya — bukan berasumsi orang lain sudah menunaikannya. Pertanyaannya: kalau semua orang berasumsi "ada yang lain yang urus", siapa yang benar-benar tersisa untuk menunaikan kewajiban itu?
Lensa keempat, dari sejarah gerakan solidaritas: dukungan dunia Muslim untuk Palestina sudah berjalan puluhan tahun jauh sebelum media sosial ada, lewat jalur diplomasi, donasi terorganisir, dan advokasi lembaga. Bentuknya berubah seiring media, tapi esensinya konsisten. Implikasinya, solidaritas hari ini terlalu sering direduksi jadi aksi digital sesaat (repost, story 24 jam) yang mudah dilupakan. Celahnya: gestur digital tanpa tindak lanjut institusional berisiko menjadi katarsis personal semata. Pertanyaannya: apakah solidaritas kita berhenti di layar, atau berlanjut ke lembaga yang benar-benar bekerja di lapangan?
Yang bisa dilakukan hari ini cukup konkret. Di kos atau kontrakan, tetapkan aturan pribadi: sebelum share berita konflik dunia, cek minimal dua sumber independen. Di kelas atau organisasi kampus, usulkan satu sesi diskusi rutin yang membahas satu isu global dengan data, bukan sekadar video viral. Di uang saku bulanan, alokasikan nominal kecil dan tetap untuk lembaga kemanusiaan yang kredibel dan menyalurkan bantuan ke Gaza — nominal kecil yang konsisten lebih bermakna daripada donasi besar sesekali saat viral.
Yang penting bukan menemukan jawaban final tentang mana isu yang "lebih layak" mendapat perhatian kita, melainkan menyadari bahwa volume linimasa bukan ukuran objektif dari bobot moral sebuah persoalan. Kesadaran itu sendiri sudah jadi langkah pertama melawan ekonomi perhatian yang mengalahkan empati.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya wajar kalau orang lebih tertarik sama drama Amerika-Iran karena itu punya dampak ekonomi global yang lebih langsung ke Indonesia dibanding Gaza?
AAda benarnya — dampak ekonomi memang faktor nyata. Tapi ketertarikan pekan ini didorong judul-judul spekulatif yang belum tentu akurat, bukan analisis dampak ekonomi yang serius. Kalau memang soal dampak, seharusnya yang viral adalah analisis kebijakan, bukan klaim "siapa menyerah duluan".
- Q · 02
Bukannya lebih baik saya diam saja daripada ikut-ikutan posting tentang isu yang saya sendiri nggak paham detailnya?
ADiam karena belum paham itu langkah yang jujur dan valid. Yang jadi masalah bukan diam, tapi diam yang berlanjut jadi permanen tanpa usaha memahami sama sekali. Ambil waktu belajar dulu, baru putuskan mau bersuara atau tetap diam dengan sadar.
- Q · 03
Fardhu kifayah kedengarannya cuma alasan teologis buat nggak ngapa-ngapain. Apa bedanya sama "ah nanti juga ada yang urus"?
ABedanya di pertanggungjawaban personal: fardhu kifayah menuntut kita memastikan *cukup* orang benar-benar bertindak, bukan berasumsi begitu saja. Kalau semua orang berpikir "nanti ada yang urus" tanpa ada yang benar-benar mengecek, kewajiban itu justru terbengkalai dan dosanya kembali ke semua orang.
- Q · 04
Saya nggak rutin ikut kajian atau organisasi Islam kampus, apa masih relevan buat saya mikirin ginian?
ASangat relevan. Kepedulian pada sesama manusia bukan monopoli kelompok tertentu. Cek fakta sebelum share dan menyisihkan uang saku untuk yang membutuhkan adalah tindakan yang bisa dilakukan siapa saja, terlepas dari seberapa aktif secara organisasi.
- Q · 05
Bukankah dengan menyoroti bahwa Gaza "kalah viral", artikel ini justru mereduksi Palestina jadi sekadar kompetisi angka tontonan?
APoin yang tajam. Justru itu yang ingin dibongkar: bahwa logika "kalah-menang viral" itu sendiri adalah kerangka yang keliru untuk menilai kepedulian. Menyadari kerangka yang keliru adalah langkah pertama untuk keluar darinya, bukan mengulanginya.
