"Ilmu, Validasi, dan Siapa yang Untung"
Pekan ini, sebuah unggahan tentang mahasiswi yang diterima di kampus teknik paling bergengsi negeri ini menyebar cepat, dengan pujian yang menggabungkan wajah dan kecerdasan dalam satu frasa: kecantikan yang berotak. Di waktu yang hampir bersamaan, pertanyaan lain juga ramai beredar di kalangan pelajar dan mahasiswa: jurusan apa yang paling mudah membuka pintu kerja saat ini. Dua percakapan ini terlihat berbeda arah — satu memuja penampilan dan prestasi sekaligus, satu murni menghitung untung-rugi karier — tapi keduanya sebenarnya berputar di sekitar pertanyaan yang sama: apa sebenarnya yang membuat sebuah pencapaian pendidikan dianggap "berhasil"? Validasi publik? Kepastian ekonomi? Atau ada ukuran lain yang justru terlupakan di tengah kebisingan dua hal itu?
Lensa pertama, dari psikologi sosial. Fenomena memuji "kecantikan yang berotak" bukan pujian netral; ia adalah refleksi bagaimana masyarakat memberi nilai tambah pada perempuan berprestasi hanya jika penampilannya juga memenuhi standar tertentu. Implikasinya, prestasi akademik perempuan sering dianggap belum lengkap tanpa validasi fisik. Tetapi celah lensa ini: fokus pada psikologi sosial saja membuat solusinya terasa abstrak — "ubah standar masyarakat" adalah proyek jangka panjang yang tidak menjawab bagaimana individu bersikap hari ini. Pertanyaan yang tersisa: kalau standar masyarakat memang lambat berubah, siapa yang bertanggung jawab menahan diri dari ikut menormalkan standar itu — individu, atau sistem yang lebih besar?
Lensa kedua, dari ekonomi. Kecemasan memilih jurusan berdasarkan kemudahan mendapat kerja adalah respons rasional terhadap pasar tenaga kerja yang kompetitif dan tidak menentu. Implikasinya, mahasiswa didorong memprioritaskan jurusan dengan permintaan tinggi, bukan minat atau kebermanfaatan sosial. Tetapi celah lensa ini: kalkulasi ekonomi murni mengabaikan bahwa jurusan yang "gampang cari kerja" hari ini bisa jenuh lima tahun ke depan, dan mengabaikan nilai ilmu yang tidak langsung menghasilkan uang tapi tetap bermanfaat bagi masyarakat. Pertanyaan yang tersisa: kalau semua orang mengejar jurusan yang sama karena dianggap "aman", siapa yang akan menekuni bidang-bidang yang penting tapi kurang menjual?
Lensa ketiga, dari kerangka niat dalam tradisi keilmuan klasik. Dalam kerangka adab menuntut ilmu, pencapaian pendidikan dinilai bukan dari hasil luarnya, melainkan dari niyyah — arah tujuan batin di balik usaha itu. Implikasinya, dua orang bisa meraih pencapaian yang identik secara objektif, tapi bernilai sangat berbeda tergantung niatnya. Tetapi celah lensa ini: prinsip niyyah mudah menjadi alasan untuk tidak mengevaluasi struktur eksternal yang timpang — seolah cukup "perbaiki niat sendiri" tanpa perlu mempertanyakan kenapa sistem pendidikan dan pasar kerja membentuk kecemasan semacam ini sejak awal. Pertanyaan yang tersisa: bisakah niat yang lurus bertahan di tengah sistem yang secara struktural memberi hadiah pada validasi dan pragmatisme?
Lensa keempat, dari sejarah keilmuan. Generasi ulama klasik menempuh perjalanan jauh dan hidup sederhana demi satu ilmu, tanpa jaminan validasi sosial atau kepastian ekonomi apa pun; sanad keilmuan mereka dijaga ketat justru karena ilmu dipandang sebagai amanah, bukan komoditas. Implikasinya, standar "berhasil" dalam pendidikan pernah punya makna yang jauh berbeda dari hari ini. Tetapi celah lensa ini: romantisasi masa lalu berisiko mengabaikan bahwa dunia hari ini punya tekanan ekonomi nyata yang tidak dihadapi generasi itu — nostalgia saja tidak membayar biaya kuliah atau menjawab kecemasan mencari kerja. Pertanyaan yang tersisa: elemen mana dari etika ilmu klasik itu yang masih bisa dipraktikkan tanpa mengabaikan realitas ekonomi mahasiswa hari ini?
Bagi mahasiswa yang merasa terjepit antara validasi dan pragmatisme, ada beberapa langkah kecil yang bisa dicoba pekan ini. Di kos atau kamar, coba tuliskan satu alasan jujur mengapa jurusan atau bidang yang sedang ditekuni dipilih — apakah karena minat, tekanan ekonomi, ikut teman, atau kombinasi ketiganya — tanpa menghakimi diri sendiri atas jawabannya. Di kelas atau laboratorium, coba sekali bertanya bukan untuk terlihat pintar di depan dosen atau teman, tapi murni karena penasaran, lalu rasakan bedanya secara jujur. Di kantin atau organisasi, coba amati satu percakapan yang memuji seseorang — perhatikan apakah pujian itu diarahkan pada usaha atau pada tampilan dan hasil semata, lalu latih diri memberi pujian yang lebih mengarah pada usaha. Bagi yang sedang magang atau kerja paruh waktu, coba refleksikan sekali dalam sepekan: apakah pekerjaan ini murni soal gaji, atau ada juga ruang untuk bermanfaat bagi orang lain? Langkah-langkah kecil ini tidak menyelesaikan tekanan struktural yang lebih besar, tapi memberi ruang untuk memeriksa niat di tengah tekanan itu.
Yang penting bukan menemukan jawaban final tentang mana yang lebih benar — mengejar validasi, mengejar kepastian ekonomi, atau mengejar niat yang murni. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa setiap lensa yang dipilih sebagai satu-satunya ukuran akan menyisakan celah yang ditutupi lensa lain. Pertanyaan tentang untuk apa sebenarnya ilmu ini dicari mungkin tidak akan pernah selesai dijawab sekali untuk selamanya — dan barangkali begitulah seharusnya, sebagai pengingat yang terus hidup.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya masalah validasi fisik-plus-prestasi ini masalah sistem media sosial, bukan masalah personal mahasiswa?
ABetul, sebagian besar memang persoalan sistemik — algoritma media sosial menghadiahi konten yang menggabungkan unsur visual dan prestasi. Tapi mengakui itu sistemik tidak menghapus peran individu dalam ikut menyebarkan atau menahan diri dari pola itu. Setiap kali sebuah pujian "cantik dan pintar" dibagikan ulang tanpa refleksi, sistem itu diperkuat oleh tangan-tangan individu. Mengubah sistem butuh waktu; menahan diri dari ikut menormalkannya bisa dimulai hari ini, meski dampaknya kecil dan tidak langsung terasa.
- Q · 02
Kenapa harus dibawa ke agama? Bukannya cukup soal etika sosial biasa tanpa perlu bicara niat atau ilmu klasik?
AEtika sosial biasa juga valid dan bisa dipakai. Tapi kerangka niyyah menawarkan sesuatu yang etika sosial sering lewatkan: standar evaluasi yang tidak bergantung sama sekali pada penilaian orang lain. Etika sosial masih rentan berubah ikut opini publik; niyyah mengukur dari dalam, terlepas dari apakah publik menyadarinya atau tidak. Ini bukan klaim bahwa satu kerangka lebih superior, melainkan tawaran sudut pandang tambahan yang kebetulan sudah lama dikembangkan dalam tradisi keilmuan yang sedang dibahas.
- Q · 03
Saya sendiri memilih jurusan yang gampang cari kerja karena keluarga saya butuh saya cepat mandiri secara ekonomi. Apa itu berarti niat saya salah?
