"Ibadah di Antara Ikhlas dan Algoritma"
Pekan ini, linimasa dipenuhi dua jenis konten keagamaan yang tampak bertolak belakang. Di satu sisi, potongan dzikir dan sholawat yang menyejukkan dibagikan ulang berkali-kali, dengan volume percakapan yang melonjak signifikan dibanding pekan-pekan sebelumnya. Di sisi lain, sebuah tantangan hafalan Al-Qur'an yang hadiahnya adalah minuman keras menuai kecaman luas. Dua fenomena ini sebenarnya lahir dari rahim yang sama: sebuah ekosistem digital yang menghadiahi apa pun yang menarik perhatian, termasuk — atau justru terutama — hal-hal yang seharusnya paling privat dan paling sakral. Pertanyaannya bukan lagi soal mana yang benar dan mana yang salah; keduanya sudah jelas jawabannya secara normatif. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: mengapa ibadah, yang secara definisi ditujukan kepada Yang Maha Melihat, justru semakin sering membutuhkan mata manusia untuk terasa bermakna?
Lensa pertama datang dari ekonomi perhatian: algoritma tidak peduli konten itu sakral atau sepele, ia hanya menghitung durasi keterlibatan. Dzikir yang menyejukkan dan tantangan yang kontroversial sama-sama "menang" di matanya. Celahnya, kerangka ini mereduksi manusia jadi sekadar unit yang bereaksi pada insentif, seolah tak ada ruang bagi ketulusan di tengah sistem yang korup insentifnya. Pertanyaannya: mungkinkah ibadah tetap tulus di dalam medium yang dibangun untuk memaksimalkan perhatian?
Lensa kedua datang dari psikologi sosial: manusia mengelola kesan tentang dirinya di depan orang lain, dan media sosial memperbesar panggung itu. Tantangan berhadiah bekerja tepat di titik ini — menjanjikan validasi atas sesuatu yang semestinya pencapaian batin. Celahnya, tidak semua ibadah yang tampil di ruang publik itu riya'; seorang guru mengaji yang mengajar di depan murid juga "tampil", tapi untuk mendidik. Pertanyaannya bergeser: di mana batas antara tampil untuk memberi teladan, dan tampil untuk dipuja?
Lensa ketiga datang dari teologi: nilai sebuah ibadah ditentukan oleh niyyah yang hanya diketahui pelakunya dan Allah. Riyad as-Salihin 25 menyebut Al-Qur'an sebagai hujjah — bukti yang membela atau memberatkan penghafalnya, tergantung caranya diperlakukan. Kerangka ini memindahkan ukuran keberhasilan dari mata manusia ke catatan Allah. Celahnya, etika ikhlas yang personal ini tidak otomatis mengubah struktur insentif platform. Pertanyaannya: bisakah ikhlas bertahan sendirian, atau ia butuh penguatan komunal yang menolak menormalisasi ibadah-jadi-tontonan?
Lensa keempat datang dari sejarah sosiologi agama: ketegangan antara praktik sakral dan versi pasarnya bukan hal baru — hampir setiap tradisi keagamaan pernah mengalami fase ketika ritualnya dikomersialkan oleh sebagian pengikutnya sendiri, jauh sebelum media sosial ada. Fenomena pekan ini bisa dibaca sebagai pola lama berwajah baru. Celahnya, framing "pola sejarah yang berulang" berisiko menjadi alasan untuk diam. Pertanyaannya: apakah mengenali pola sejarah membebaskan dari tanggung jawab merespons kejadian hari ini, atau justru mewajibkan respons itu, karena sudah diketahui ke mana pola semacam ini bisa berujung jika dibiarkan?
Di level personal, langkah paling murah adalah audit kecil: sebelum mengunggah apa pun yang berkaitan dengan ibadah, tunda sepuluh detik dan tanyakan pada diri sendiri untuk siapa unggahan itu dibuat. Bukan untuk berhenti berbagi — berbagi kebaikan tetap bernilai — melainkan untuk memastikan berbagi tidak menjadi tujuan itu sendiri.
Di kos atau kontrakan, satu waktu tanpa gawai untuk tilawah atau dzikir, sekecil sepuluh menit, bisa jadi pengingat bahwa tidak semua ibadah perlu punya jejak digital. Di organisasi kemahasiswaan yang bergerak di bidang dakwah kampus, metrik keberhasilan program sepatutnya dievaluasi ulang: jangan hanya mengukur jumlah tayangan atau peserta, sertakan juga indikator kualitatif seperti keberlanjutan amalan setelah acara selesai. Di kantin atau ruang diskusi, isu ini bisa menjadi bahan obrolan yang membongkar asumsi, bukan sekadar bahan olok-olok terhadap pihak yang membuat tantangan itu.
Satu poin yang sering terlewat: QS. Al-Baqara: 110 mengingatkan bahwa kebaikan yang diusahakan tetap tercatat di sisi Allah, terlepas dari siapa yang melihatnya. Ini bukan ajakan menyembunyikan seluruh kebaikan, melainkan pengingat bahwa nilai sebuah amal tidak gugur hanya karena tidak viral.
Yang penting bukan menemukan jawaban final tentang mana yang murni ibadah dan mana yang murni pertunjukan — batas itu sering kali kabur bahkan bagi pelakunya sendiri. Yang lebih penting adalah kesediaan untuk terus mempertanyakan posisi diri di antara keduanya, setiap kali jari hendak menekan tombol bagikan. Ekonomi perhatian tidak akan hilang dalam waktu dekat; pertanyaannya adalah apakah ia dibiarkan menentukan ukuran kesalehan, atau tetap disisakan ruang yang tidak pernah diunggah ke mana pun.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini masalah platform dan algoritma, bukan masalah personal kita sebagai pengguna?
AAda benarnya — struktur insentif platform memang mendorong perilaku ini, dan tidak adil membebankan semuanya pada individu. Tapi menunggu platform berubah bukan strategi yang bisa diandalkan; perusahaan teknologi jarang mengubah model bisnis demi alasan spiritual. Yang bisa dikendalikan hari ini adalah respons terhadap insentif itu sendiri — tetap sadar bahwa "menang" di algoritma dan "menang" di catatan Allah adalah dua ukuran berbeda, bahkan ketika satu memengaruhi yang lain.
- Q · 02
Kenapa harus dibawa ke kerangka agama? Bukannya cukup bilang ini soal etika media secara umum?
AKerangka etika media umum memang relevan dan tidak eksklusif milik agama mana pun. Tapi bagi audiens yang kerangka bermaknanya memang teologis, *niyyah* dan konsep Qur'an sebagai hujjah memberi bahasa yang lebih dekat dan lebih personal dibanding istilah "etika digital" yang terasa abstrak. Dua kerangka ini tidak saling meniadakan; keduanya bisa dipakai berdampingan tergantung audiens mana yang ingin diajak bicara.
- Q · 03
Apa bedanya kritik ini dengan sekadar moralisme generik yang selalu bilang "jaga niat"?
ABedanya ada di lapisan analisisnya. Moralisme generik berhenti di nasihat individual tanpa membongkar kenapa insentif untuk pamer itu ada di tempat pertama. Argumen di atas menunjukkan bahwa masalahnya berlapis: ada struktur ekonomi perhatian, ada dinamika psikologis, dan ada kerangka teologis — ketiganya berinteraksi. "Jaga niat" tetap benar sebagai kesimpulan, tapi memahami kenapa niat itu digoda dari banyak arah sekaligus membuat nasihatnya lebih dari sekadar slogan.
- Q · 04
Bukankah menghubungkan tantangan viral ini dengan sejarah komersialisasi agama itu terlalu jauh — apa relevansinya buat mahasiswa sekarang?
ARelevansinya justru pada polanya, bukan detail historisnya. Mengetahui bahwa ketegangan sakral-versus-tontonan sudah berulang lintas zaman membantu menghindari dua reaksi ekstrem: panik seolah ini bencana baru tanpa presedan, atau pasif karena menganggap "toh selalu begini". Sejarah di sini berfungsi sebagai peta pola, bukan sebagai alasan untuk berhenti bertindak.
- Q · 05
Bagaimana kalau seseorang sendiri jarang beribadah secara rutin — masih adakah hak untuk bicara soal ini?
AJustru pertanyaan semacam ini menunjukkan kesadaran yang lebih jujur dibanding banyak yang rutin beribadah tapi tidak pernah mempertanyakan niatnya. Hak untuk bicara soal integritas ibadah tidak mensyaratkan kesempurnaan pribadi — argumen soal struktur insentif dan psikologi sosial di atas berlaku untuk siapa saja yang menggunakan media sosial, terlepas dari seberapa rutin ibadahnya. Yang penting bukan status ibadah hari ini, melainkan kejujuran dalam menilai pola yang sedang dibahas.
