"Siapa Menjaga Tubuh Kita Sebenarnya"
Pekan ini, dua isu kesehatan mengisi linimasa: keluhan panjang soal layanan BPJS dan kondisi tenaga kesehatan di satu sisi, dan kasus keracunan yang menyeret program makan bergizi gratis di sisi lain. Dua isu ini punya kesamaan yang jarang disadari: keduanya adalah momen ketika sistem yang seharusnya menjaga tubuh warga justru menjadi sumber kecemasan itu sendiri. Reaksi paling umum di lini masa adalah menyalahkan satu pihak — pemerintah dianggap lalai, penyedia jasa dianggap serakah, individu dianggap kurang waspada. Tapi menyalahkan satu pihak mungkin terlalu mudah untuk persoalan yang sebenarnya berlapis. Pertanyaan yang lebih menarik bukan "siapa yang salah", melainkan siapa yang sebenarnya bertanggung jawab menjaga tubuh kita — negara, komunitas, atau diri sendiri — dan apa yang terjadi ketika ketiganya sama-sama merasa itu bukan tugas utamanya.
Lensa pertama, dari ekonomi kebijakan publik: jaminan kesehatan nasional dan program gizi gratis adalah bentuk intervensi negara mengatasi apa yang disebut ekonom sebagai kegagalan pasar — banyak orang tidak mampu membeli layanan kesehatan atau gizi layak tanpa subsidi. Implikasinya, negara mengambil peran penjamin kolektif. Tapi celah lensa ini nyata: semakin besar cakupan sebuah program, semakin sulit pengawasan detail di setiap titik pelaksanaannya, dari puskesmas terpencil sampai dapur penyedia gizi di satu kecamatan. Pertanyaannya: apakah skala besar itu sendiri yang membuat kegagalan kecil di satu titik nyaris tak terhindarkan?
Lensa kedua, dari sosiologi tanggung jawab kolektif: ketika sebuah program gagal di satu titik, reaksi publik sering menuntut pertanggungjawaban institusional semata, seolah warga hanya berperan sebagai penerima layanan pasif. Ruang tanggung jawab komunitas — tetangga yang saling mengawasi, orang tua yang aktif bertanya soal menu anak — mengecil karena "sudah ada sistem yang mengurus". Celahnya: tanggung jawab kolektif tanpa struktur jelas gampang menguap jadi tidak ada yang benar-benar bertanggung jawab. Pertanyaannya: bisakah tanggung jawab komunitas hidup berdampingan dengan sistem besar, tanpa saling melempar tanggung jawab?
Lensa ketiga, dari teologi amanah: dalam kerangka Islam, tubuh bukan milik mutlak individu untuk diperlakukan semaunya, juga bukan semata tanggung jawab negara — ia amanah dari Allah yang dijaga oleh siapa pun yang diberi kewenangan atasnya, sekecil apa pun kewenangan itu. Prinsip mizan dan istikhlaf menyiratkan setiap pihak — negara, penyedia jasa, orang tua, individu — memegang sebagian amanah yang sama, bukan salah satunya memegang seluruhnya sementara yang lain lepas tangan. Implikasinya, pertanyaan "siapa yang bertanggung jawab" salah kerangka sejak awal; yang lebih tepat adalah bagian amanah mana yang sedang dipegang, dan apakah itu dijaga dengan baik. Celahnya: kerangka amanah bisa disalahgunakan untuk melonggarkan akuntabilitas institusional — cukup dengan berlindung di balik alasan "bagian yang dipegang toh sudah dijaga" — padahal kegagalan sistemik tetap butuh perbaikan struktural, bukan hanya kesalehan individual.
Lensa keempat, dari psikologi perilaku: manusia cenderung mengabaikan risiko kesehatan yang statistik dan jangka panjang (pola makan buruk yang perlahan), tapi bereaksi keras pada risiko yang konkret dan mendadak (kasus keracunan yang viral). Implikasinya, perhatian publik terhadap kesehatan sering reaktif, bukan preventif — ramai ketika ada kasus, sepi ketika tidak. Celahnya: kalau perhatian hanya muncul saat viral, perbaikan yang lahir pun cenderung kosmetik dan sesaat. Pertanyaannya: bagaimana caranya kepedulian terhadap kesehatan tetap hidup di luar musim viral?
Beberapa langkah bisa diambil tanpa menunggu jawaban final atas pertanyaan besar di atas. Di kos atau kontrakan, biasakan mengecek tanggal kedaluwarsa dan kebersihan bahan makanan bersama, bukan mengandalkan satu orang saja. Di organisasi kampus, kalau ada program kesehatan yang menyasar mahasiswa — subsidi vaksin, pemeriksaan gratis, dan semacamnya — jadikan momentum untuk aktif bertanya soal mekanisme pengawasannya, bukan sekadar memanfaatkan lalu diam. Di lab atau tempat magang yang berhubungan dengan kebijakan publik atau gizi masyarakat, jadikan isu pekan ini studi kasus nyata: bagaimana kebijakan berniat baik bisa gagal di titik pelaksanaan, dan di mana titik intervensi paling realistis untuk diperbaiki. Di kantin, sesederhana menegur sopan kalau melihat penyimpanan makanan yang tidak higienis, alih-alih diam karena merasa bukan urusan sendiri. Semua langkah ini kecil, tapi mengembalikan sebagian bobot tanggung jawab kepada individu dan komunitas, tanpa menghapus kebutuhan untuk terus menuntut perbaikan struktural itu sendiri.
Yang penting bukan menentukan siapa paling bersalah dalam rantai tanggung jawab menjaga tubuh warga. Yang lebih penting adalah menyadari bahwa setiap lensa — kebijakan, sosial, teologis, psikologis — menunjukkan bagian berbeda dari masalah yang sama, dan celah di satu lensa sering menjadi alasan melempar tanggung jawab ke lensa lain. Barangkali pertanyaan yang lebih produktif bukan siapa yang bertanggung jawab, melainkan bagian mana yang sedang diabaikan.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini masalah sistem dan kebijakan, kenapa mesti dibawa-bawa ke tanggung jawab individu segala?
APoin ini valid — kegagalan skala besar seperti kasus keracunan massal memang lebih tepat diselesaikan lewat perbaikan struktural, bukan sekadar imbauan ke individu. Tapi menempatkan tanggung jawab hanya di level sistem berisiko membuat individu merasa tidak punya peran sama sekali, padahal banyak titik kegagalan kecil — kebersihan dapur rumah, pengawasan jajanan anak — memang berada di luar jangkauan kebijakan negara. Keduanya perlu berjalan bersamaan, bukan saling menggantikan.
- Q · 02
Kenapa agama harus ikut campur soal urusan teknis seperti kebijakan kesehatan dan gizi?
AAgama di sini tidak menawarkan solusi teknis pengganti kebijakan publik — ia menawarkan kerangka nilai tentang untuk apa kebijakan itu ada. Konsep amanah tidak menggantikan ilmu gizi atau manajemen layanan kesehatan, tapi menjawab pertanyaan lebih mendasar: kenapa kita peduli menjaga tubuh orang lain sama sekali. Kerangka nilai dan kerangka teknis beroperasi di level berbeda, bukan saling bersaing.
- Q · 03
Bukannya konsep amanah ini gampang jadi tameng buat pihak yang gagal — tinggal bilang "bagian yang dipegangnya sudah dijaga", selesai?
ARisiko itu nyata, dan memang disinggung sebagai celah lensa ketiga di atas. Amanah bukan kata sakti yang menghapus akuntabilitas — justru sebaliknya, konsep amanah dalam Islam datang dengan pertanggungjawaban yang lebih berat, bukan lebih ringan. Kalau ada pihak memakai kata "amanah" untuk cuci tangan dari kegagalan nyata, itu penyalahgunaan konsep, bukan kesalahan konsepnya.
- Q · 04
Kalau jarang mikirin hal-hal begini, apa itu tandanya tidak peduli kesehatan orang lain?
ATidak otomatis begitu. Tulisan ini bukan soal menghakimi siapa peduli dan siapa tidak, melainkan mengajak melihat pola: kenapa kepedulian sering hanya muncul saat ada kasus viral. Menyadari pola itu saja sudah langkah awal, tanpa perlu merasa bersalah berlebihan atas hal yang sebelumnya memang tidak disadari.
- Q · 05
Solusi yang ditawarkan kedengarannya kecil banget dibanding masalahnya yang besar. Apa gunanya?
ASolusi kecil di sini memang tidak dimaksudkan menggantikan reformasi kebijakan berskala nasional — keduanya beroperasi di level berbeda. Tapi solusi kecil punya keunggulan yang solusi besar tidak selalu punya: bisa dijalankan hari ini juga, tanpa menunggu proses politik atau birokrasi selesai lebih dulu. Keduanya bukan pilihan salah satu, melainkan dua lini yang idealnya berjalan paralel.
