"Solidaritas Digital, Nyata atau Sekadar Ramai?"
Linimasa pekan ini dipenuhi dua arus sekaligus: kecemasan tentang ketegangan Iran-Amerika Serikat di Selat Hormuz, dan gelombang unggahan tentang Gaza, Palestina, serta Tepi Barat yang tidak pernah benar-benar surut. Pola yang berulang mudah dikenali — sebuah kabar muncul, ribuan orang bereaksi dalam hitungan jam, emosi memuncak, lalu perlahan tenggelam digantikan topik berikutnya. Pertanyaannya bukan apakah kepedulian itu tulus — kemungkinan besar memang tulus — melainkan apakah bentuknya benar-benar sampai ke mana pun selain linimasa itu sendiri.
Fenomena ini bukan sesuatu yang unik dialami satu generasi. Setiap generasi menghadapi krisis dunia dengan kanal yang tersedia pada zamannya, dan setiap kanal punya bias bawaannya sendiri: surat kabar membentuk opini lebih lambat tapi lebih dalam, televisi membentuk opini lebih cepat lewat gambar yang emosional, dan media sosial membentuk opini paling cepat lewat potongan-potongan singkat yang mudah viral tapi mudah pula dilupakan. Mahasiswa hari ini adalah generasi pertama yang mengalami krisis dunia hampir seketika ia terjadi, lewat kanal yang dirancang untuk membuat penggunanya terus kembali. Pertanyaan tentang solidaritas digital, karena itu, bukan sekadar pertanyaan moral personal — ia juga pertanyaan tentang bagaimana sebuah generasi belajar berpikir jernih di tengah arsitektur informasi yang tidak dirancang untuk kejernihan.
Lensa pertama, dari psikologi sosial: ada fenomena yang disebut solidaritas performatif, yaitu ketika membagikan ulang unggahan tentang krisis memberi rasa "telah berbuat sesuatu", padahal yang terjadi hanyalah perpindahan informasi, bukan perpindahan sumber daya atau tindakan. Implikasinya, ruang digital mendorong emosi yang tampil ke permukaan, bukan aksi yang substantif. Tapi celah lensa ini: menuntut "aksi nyata" dari setiap orang belum tentu adil, ketika sebagian besar orang memang hanya punya kapasitas untuk menyaksikan dan bersimpati dari jauh. Pertanyaannya, di manakah batas antara simpati yang sah dan kewajiban bertindak yang sesungguhnya?
Lensa kedua, dari ekonomi perhatian: platform digital dirancang memaksimalkan waktu yang dihabiskan penggunanya, dan konten yang memicu kemarahan atau kesedihan mendalam terbukti paling efektif menahan perhatian itu. Implikasinya, algoritma diam-diam diuntungkan oleh volume emosi yang dihasilkan sebuah krisis, terlepas dari apakah emosi itu berujung pada perubahan nyata. Tapi celah lensa ini: kritik terhadap algoritma bisa jadi alasan menarik diri sepenuhnya dari ruang digital, padahal ruang yang sama juga terbukti efektif menggalang dana dan kesadaran kolektif dalam skala yang dulu mustahil dicapai. Mungkinkah memakai mesin yang sama tanpa ikut ditelan logikanya?
Lensa ketiga, dari etika Islam: prinsip mizan menuntut keseimbangan antara emosi dan pengetahuan sebelum bersikap. Adab al-'Alim wa al-Muta'allim mencatat bahwa mengakui "la adri" — ketidaktahuan diri sendiri atas suatu perkara — adalah tanda kematangan ilmu, sementara keengganan mengakuinya justru menandakan agama yang rapuh dan pengetahuan yang dangkal. Implikasinya, opini cepat tentang geopolitik yang rumit, tanpa pemahaman konteks yang memadai, berisiko menjadi kekeliruan yang tersebar luas atas nama kepedulian. Tapi celah lensa ini: kehati-hatian intelektual bisa disalahgunakan sebagai alasan untuk tidak pernah bersikap sama sekali, padahal berdiam diri di hadapan ketidakadilan yang jelas juga menyimpan konsekuensi moralnya sendiri. Di mana batas antara kehati-hatian yang sehat dan kelumpuhan yang dibungkus kerendahan hati?
Lensa keempat, dari studi hubungan internasional: pandangan realis memandang keputusan negara-negara besar seperti ketegangan di Selat Hormuz sebagai hasil kalkulasi kekuatan yang nyaris tidak tersentuh opini warganet biasa. Implikasinya, energi yang dihabiskan berdebat tentang kebijakan luar negeri di kolom komentar berisiko menjadi energi yang salah alokasi. Tapi celah lensa ini: pandangan realis yang terlalu ketat bisa membenarkan sikap apatis total, padahal sejarah mencatat tekanan opini publik global pernah menggeser arah kebijakan yang tampak tak tergoyahkan. Jika bukan lewat mengubah kebijakan negara, di ranah mana kontribusi individu paling mungkin memberi dampak yang bisa dilacak?
Yang bisa dicoba hari ini, pada skala yang benar-benar terjangkau seorang mahasiswa: di kos, mengganti satu jam scroll berita spekulatif dengan membaca satu sumber tepercaya secara utuh sebelum membentuk opini. Di kelas atau forum diskusi jurusan, mengajukan pertanyaan yang menguji asumsi ketimbang mengulang narasi yang sudah viral. Di organisasi atau lembaga kemahasiswaan, mengalokasikan sebagian dana kegiatan sosial untuk lembaga kemanusiaan yang jalur penyalurannya transparan dan bisa diverifikasi, bukan sekadar mentransfer ke rekening yang viral tanpa rekam jejak jelas. Di kantin atau ruang santai, membiasakan bertanya "sumbernya dari mana?" sebelum ikut menyebarkan klaim tentang pihak-pihak dalam sebuah konflik. Solidaritas yang bertahan bukan yang paling ramai dibagikan, melainkan yang paling konsisten disalurkan, sekecil apa pun bentuknya.
Yang penting bukan menemukan jawaban final tentang berapa banyak solidaritas yang "cukup", melainkan memahami bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai prioritas — emosi, algoritma, kehati-hatian intelektual, atau realisme politik — akan menutupi celah dari lensa yang lain. Barangkali pertanyaan yang lebih jujur bukan "apakah kepedulian ini sudah cukup", melainkan apakah kepedulian itu punya bentuk yang bisa dilacak, atau ia menguap begitu saja begitu unggahan berikutnya muncul di linimasa.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya nge-repost itu juga bentuk edukasi buat orang yang belum tahu? Kenapa dianggap remeh?
ARepost memang punya fungsi edukatif, terutama untuk isu yang minim liputan. Yang dipersoalkan bukan tindakan repost itu sendiri, melainkan ketika repost menjadi satu-satunya bentuk keterlibatan yang pernah dilakukan, seolah menyelesaikan kewajiban moral seseorang. Repost yang disertai verifikasi sumber dan diikuti langkah lain — donasi, doa, diskusi yang lebih dalam — punya nilai yang jauh berbeda dibanding repost reflektif tanpa jeda berpikir.
- Q · 02
Kenapa mahasiswa harus mikirin Iran-Amerika? Itu urusan negara adidaya, bukan urusan kita di kampus.
ABenar bahwa keputusan di level itu berada di luar kendali mahasiswa mana pun. Tapi persoalan ini bukan mengajak mengatur kebijakan Iran atau Amerika — ia mengajak memeriksa bagaimana individu, sebagai konsumen dan penyebar informasi tentang isu itu, ikut membentuk iklim wacana publik di sekitarnya. Skala pengaruh individu memang kecil, tapi tidak nol, dan yang kecil itu tetap bisa dipertanggungjawabkan.
- Q · 03
Bukannya lebih jujur kalau kita akui saja kita nggak bisa ngapa-ngapain buat Gaza selain sedih?
AKejujuran semacam itu penting, dan mengakui keterbatasan bukan kekalahan. Tapi ada jarak antara "mengakui keterbatasan" dan "berhenti mencari bentuk kontribusi yang memang terjangkau". Sedih adalah respons yang sah, namun sedih bisa disertai satu langkah kecil yang terlacak — donasi terverifikasi, doa yang konsisten — tanpa perlu berpura-pura mampu menyelesaikan konflik itu sendiri.
- Q · 04
Kalau kita nggak update berita sama sekali karena bikin cemas, apa itu dianggap tidak peduli?
ATidak. Membatasi konsumsi berita demi menjaga kesehatan mental bukan indikator ketidakpedulian — itu justru bentuk pengelolaan diri yang matang. Kepedulian tidak diukur dari intensitas mengikuti berita, melainkan dari konsistensi merespons dalam bentuk yang bisa dijalani jangka panjang, bahkan jika bentuknya sesederhana doa rutin tanpa mengikuti setiap perkembangan menit demi menit.
- Q · 05
Bukannya membawa prinsip agama ke isu politik internasional itu berbahaya, bisa dianggap mencampur agama dengan politik praktis?
AKekhawatiran ini valid dan perlu dijaga batasannya. Uraian di atas tidak mengambil posisi tentang kebijakan luar negeri negara mana pun — prinsip *mizan* dan "la adri" yang diangkat di sini adalah kerangka etis tentang bagaimana individu bersikap terhadap informasi dan emosi, bukan resep kebijakan geopolitik. Perbedaannya terletak antara "menggunakan nilai untuk menata sikap pribadi" dan "mengklaim otoritas atas keputusan politik luar negeri" — pembahasan ini secara sengaja berhenti di titik pertama.
