"Empat Lensa Membaca Bumi yang Terbakar"
Linimasa pekan ini dipenuhi dua jenis pemandangan yang sekilas tidak berhubungan. Di satu sisi, video kawasan Gunung Bromo yang diselimuti asap tebal, disertai keterangan dramatis seperti "lautan api", tersebar cepat dan ditonton jutaan kali. Di sisi lain, ada angka yang jauh lebih sepi dari perhatian: laporan kekeringan di berbagai daerah, sawah yang gagal panen, sumber air yang menipis. Satu jenis bencana mendapat sorotan penuh karena visualnya kuat; jenis lain nyaris tidak terdengar karena berlangsung pelan dan tersebar. Pertanyaannya bukan sekadar "kenapa bencana terjadi", melainkan "kenapa perhatian kita begitu selektif terhadap bencana mana yang dianggap layak dipedulikan" — dan siapa yang akhirnya menanggung akibat dari selektivitas itu.
Lensa pertama datang dari ekonomi. Sebagian besar kebakaran hutan dan lahan bukan kejadian alami murni, melainkan hasil dari kalkulasi biaya: membuka lahan dengan cara dibakar jauh lebih murah dan cepat dibanding metode mekanis. Implikasinya, karhutla musiman bukan semata soal "kurang kesadaran lingkungan", melainkan struktur insentif yang membuat jalan pintas ilegal tetap rasional secara ekonomi bagi sebagian pihak. Tetapi ada celah dalam lensa ini: jika semuanya direduksi menjadi insentif ekonomi, pelaku pembakaran seolah menjadi korban sistem yang tidak bisa disalahkan secara personal — padahal tetap ada pilihan moral yang diambil secara sadar oleh seseorang di ujung rantai keputusan itu. Sejauh mana struktur ekonomi boleh menjadi alasan pemaaf bagi pilihan yang jelas merugikan banyak orang?
Lensa kedua datang dari sosiologi media. Viralnya rekaman "lautan api" menunjukkan bagaimana bencana, dalam budaya digital hari ini, diproses lebih dulu sebagai konten ketimbang krisis. Implikasinya, perhatian publik terhadap sebuah bencana cenderung tinggi tapi dangkal, cepat naik dan cepat pula digantikan tren berikutnya begitu algoritma bergeser. Namun ada celah untuk dicermati: kritik terhadap "budaya menonton bencana" ini berisiko jatuh menjadi elitis, seolah menyalahkan rasa ingin tahu orang kebanyakan, padahal justru penyebaran video itulah yang sering mempercepat informasi darurat dan bantuan sampai ke lokasi. Kapan tepatnya menonton bencana lewat layar berubah dari bentuk solidaritas menjadi konsumsi semata?
Lensa ketiga datang dari teologi. Dalam kerangka Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah — pemegang amanah atas bumi, bukan pemilik mutlak yang bebas memperlakukannya semau hati. QS. Ash-Shu'araa: 152 mengingatkan tentang golongan yang "membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan perbaikan" sebagai watak yang dicela sejak generasi-generasi awal. Implikasinya, kerusakan lingkungan dalam pandangan ini bukan sekadar persoalan teknis-administratif, melainkan pengingkaran terhadap sebuah amanah yang levelnya lebih tinggi dari sekadar regulasi. Celahnya, bingkai teologis semacam ini bisa terasa terlalu abstrak untuk benar-benar mengubah kebijakan konkret — menyebut kata "amanah" tidak otomatis membangun sistem pengawasan hutan yang lebih ketat atau transparan. Bagaimana bahasa moral-teologis semacam ini diterjemahkan menjadi mekanisme akuntabilitas yang benar-benar bisa diukur, bukan sekadar retorika yang menenangkan hati?
Lensa keempat datang dari psikologi bencana. Konsep normalcy bias dalam psikologi menjelaskan kecenderungan manusia meremehkan risiko bencana yang belum pernah dialami langsung, sehingga kesiapsiagaan selalu tertinggal di belakang kejadian, bukan mendahuluinya. Implikasinya, baik individu maupun institusi cenderung lebih banyak berinvestasi pada respons pasca-bencana ketimbang mitigasi sebelum bencana terjadi. Celahnya, penjelasan psikologis ini berisiko dijadikan tameng pembenaran: institusi dengan sumber daya dan mandat yang jauh lebih besar dari individu biasa bisa berlindung di balik alasan "itu kan wajar secara psikologis" untuk kelalaian yang sebetulnya struktural. Pada titik mana bias psikologis berhenti menjadi penjelasan dan mulai menjadi pembenaran atas kelalaian yang seharusnya bisa dicegah?
Dari keempat lensa ini, tidak ada satu pun yang berdiri sendiri secara memuaskan. Insentif ekonomi menjelaskan motif, tapi tidak menghapus pilihan moral individu. Kritik terhadap budaya spektakel menjelaskan pola perhatian publik, tapi berisiko meremehkan fungsi informasinya. Bingkai amanah menawarkan kedalaman makna, tapi perlu diterjemahkan ke instrumen yang terukur. Dan psikologi bencana menjelaskan pola manusiawi, tapi bisa disalahgunakan sebagai pembenaran struktural.
Dari sisi praktis, ada beberapa langkah yang bisa mulai dijalankan hari ini di ruang-ruang yang paling dekat. Di tingkat organisasi kampus, kegiatan BEM atau UKM bisa mulai diaudit sederhana: seberapa banyak plastik sekali pakai yang digunakan dalam satu acara, dan apakah ada alternatif yang realistis. Di ruang kelas, mata kuliah yang menyentuh isu lingkungan, hukum, atau etika bisa mengangkat studi kasus insentif ekonomi di balik karhutla sebagai bahan diskusi, bukan hanya data hafalan. Bagi yang berada di jurusan teknik, kehutanan, atau geografi, keterlibatan dalam proyek pemetaan titik api berbasis data terbuka menjadi kontribusi konkret yang sejalan dengan keahlian yang sedang dipelajari. Di tempat magang atau organisasi yang bersinggungan dengan rantai pasok industri berbasis lahan, pertanyaan sederhana tentang asal-usul bahan baku bisa menjadi titik masuk kepedulian yang tidak berlebihan tapi nyata. Dan di kos atau tempat tinggal masing-masing, kebiasaan kecil seperti memilah sampah atau tidak membakar sampah sembarangan tetap relevan, betapa pun kecil skalanya dibanding besarnya masalah.
Barangkali yang lebih penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar di antara keempatnya, melainkan menyadari bahwa keempatnya berbicara tentang hal yang sama dari sudut berbeda: ada jarak antara mengetahui bahwa bumi ini titipan dan benar-benar memperlakukannya sebagai titipan. QS. Al-Haaqqa: 14 menggambarkan bumi dan gunung yang pada akhirnya akan dibenturkan sekali bentur — sebuah pengingat bahwa apa pun yang dianggap kokoh hari ini bersifat sementara. Pertanyaannya kemudian dikembalikan ke ruang yang lebih personal: lensa mana yang paling terasa relevan dari posisi masing-masing, dan apakah kesadaran itu berhenti sebagai wacana atau bergerak menjadi kebiasaan.
Pertanyaan
- Q · 01
"Ini kan cuma karhutla musiman yang tiap tahun juga terjadi, kenapa harus dibawa-bawa ke soal amanah dan dosa segala?"
AJustru sifat musiman dan berulangnya itu yang perlu dipertanyakan, bukan dilewatkan begitu saja. Sesuatu yang terjadi setiap tahun tanpa perbaikan berarti ada pola yang dibiarkan, dan itu persis yang disinggung dalam gagasan "membuat kerusakan tapi tidak mengadakan perbaikan". Bingkai amanah di sini bukan untuk melabeli setiap kejadian sebagai dosa personal siapa pun yang menontonnya, melainkan untuk menyoroti kenapa pola yang sama terus dibiarkan berulang tanpa evaluasi serius.
- Q · 02
"Bukannya ini masalah struktural — korporasi dan kebijakan lahan — jadi bukan urusan mahasiswa biasa?"
ABetul bahwa akar masalahnya sebagian besar struktural, dan itu tidak bisa diselesaikan oleh satu individu. Tetapi struktur besar itu diisi oleh orang-orang yang membuat keputusan kecil di dalamnya — pengawas yang memilih menutup mata, petugas yang memilih menegakkan aturan atau tidak, konsumen yang memilih peduli atau abai pada asal bahan baku. Kepekaan terhadap pola ini bisa mulai dibangun sekarang, bukan ditunda sampai berada di posisi yang dianggap cukup penting untuk peduli.
- Q · 03
"Kenapa harus pakai bingkai agama? Bukannya sains dan hukum lingkungan sudah cukup untuk menjelaskan dan menindak ini?"
ASains dan hukum menjelaskan mekanisme kerusakan dan menyediakan sanksi ketika ada yang mengawasi. Keduanya penting dan tidak tergantikan. Yang sering luput adalah motivasi internal untuk tetap peduli saat tidak ada yang mengawasi — dan di titik itulah bingkai amanah menawarkan lapisan tambahan, bukan pengganti sains atau hukum, melainkan pelengkap yang bekerja pada ruang yang tidak terjangkau regulasi.
- Q · 04
"Kita juga suka nonton video bencana yang viral, apa itu berarti kita tidak peduli?"
ATidak otomatis begitu. Rasa ingin tahu terhadap peristiwa besar adalah hal yang manusiawi, dan kadang justru menjadi pintu masuk kepedulian yang tumbuh belakangan. Pertanyaan yang lebih relevan bukan apakah menonton itu salah, melainkan apakah rasa penasaran itu berhenti begitu video selesai diputar, atau bergerak menjadi tindakan sekecil apa pun sesudahnya.
- Q · 05
"Kalau cuma mahasiswa biasa, apa realistis bisa mengubah pola sebesar ini?"
ASkala perubahan personal memang kecil dibanding skala masalahnya, dan itu perlu diakui secara jujur tanpa berlebihan. Tetapi pilihannya tidak sesempit antara "mengubah semuanya" atau "tidak melakukan apa-apa". Ada ruang tengah berupa konsistensi kecil dan keberanian menyuarakan di ruang yang bisa dijangkau — kelas, organisasi, keluarga — yang, ketika dilakukan banyak orang secara bersamaan, berubah menjadi tekanan kolektif yang nyata.
