"Ketika Mesin Ikut Berpendapat"
Pekan ini, sebuah upaya pengelompokan topik teknologi dari ribuan unggahan publik berakhir dengan hasil yang janggal: sebagian besar kontennya justru tidak bisa dimasukkan ke kategori mana pun yang jelas. Bukan karena datanya sedikit, melainkan karena konten yang beredar terlalu bercampur — potongan hiburan, sindiran politik, ulasan gawai, cuplikan drama — sampai sebuah sistem klasifikasi pun kesulitan menentukan topik sebenarnya dari tiap unggahan. Ironinya, kesulitan mesin mengklasifikasi ini justru menyingkap pertanyaan yang lebih besar: kalau mesin saja kebingungan menentukan kategori sebuah unggahan, bagaimana mesin yang sama bisa dipercaya ketika ia mulai menyusun jawaban, meringkas berita, atau bahkan menyarankan pendapat kepada jutaan pengguna setiap hari?
Lensa pertama datang dari ekonomi platform. Algoritma media sosial dan mesin rekomendasi tidak dirancang untuk menyajikan kebenaran, melainkan untuk memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di aplikasi, sebab itulah yang menghasilkan pendapatan iklan. Implikasinya, konten yang paling banyak muncul bukan yang paling akurat, melainkan yang paling memancing reaksi cepat: sindiran, kontroversi, atau kejutan. Celah lensa ini juga jelas: kalau semua kesalahan dilimpahkan ke algoritma, pengguna kehilangan tanggung jawabnya sendiri atas apa yang diklik, ditonton sampai habis, dan dibagikan berulang kali. Pertanyaan yang tersisa: sejauh mana insentif ekonomi bisa membenarkan hilangnya tanggung jawab personal?
Lensa kedua datang dari epistemologi, cabang filsafat yang mempersoalkan bagaimana sebuah keyakinan bisa disebut sah. Sistem kecerdasan buatan generatif dapat menyusun kalimat yang terdengar meyakinkan tanpa benar-benar meyakini apa pun — tidak ada kesadaran, tidak ada niat, hanya pola statistik dari data yang pernah dipelajarinya. Implikasinya, kepercayaan terhadap sebuah teks tidak lagi bisa disandarkan pada siapa yang mengatakannya, sebab yang "mengatakannya" bisa jadi bukan siapa-siapa. Prinsip lama tentang bayyinah — bahwa sebuah klaim perlu diperiksa kredibilitasnya sebelum diterima, sebagaimana disebutkan dalam kitab fikih klasik Fath al-Qarib tentang cara hakim menimbang bukti — menemukan relevansi barunya di sini. Celahnya: memeriksa kredibilitas setiap klaim yang muncul di linimasa jelas mustahil dilakukan satu per satu; ada batas praktis pada seberapa jauh tabayyun bisa dijalankan tanpa membuat seseorang berhenti berfungsi di tengah dunia yang penuh informasi.
Lensa ketiga datang dari sosiologi kerumunan digital. Sindiran yang viral pekan ini — baik terhadap gaya berpakaian tertentu maupun terhadap seorang pejabat publik — jarang lahir dari satu individu yang berpikir panjang, melainkan dari efek kerumunan: satu komentar tajam memancing komentar tajam berikutnya, membentuk gelombang yang terasa seperti opini bersama padahal sebenarnya kumpulan reaksi spontan yang saling memperkuat. Implikasinya, "opini publik" yang tampak di linimasa bisa jadi bukan cerminan pemikiran yang matang, melainkan hasil dinamika kerumunan yang kebetulan bergerak searah. Celahnya: menyalahkan budaya kerumunan secara umum berisiko menghapus tanggung jawab personal tiap orang yang memilih ikut menekan tombol bagikan pada momen tertentu. Pertanyaannya: di titik mana seseorang berhenti menjadi bagian pasif kerumunan dan mulai menjadi individu yang bertanggung jawab atas kontribusinya sendiri?
Lensa keempat datang dari prinsip istikhlaf dalam tradisi Islam — gagasan bahwa manusia diberi amanah mengelola bumi dan segala kemampuan di atasnya, termasuk kemampuan baru seperti kecerdasan buatan. QS. Al-Haaqqa: 39 mengingatkan bahwa ada dimensi yang tidak terlihat oleh manusia namun tetap diketahui sepenuhnya oleh Allah — prinsip yang, jika dipinjam sebagai lensa analitis, menyiratkan bahwa akuntabilitas tidak hilang hanya karena sebuah proses bekerja di balik layar yang tidak kasat mata. Implikasinya, pengguna maupun perancang teknologi tetap terikat pertanggungjawaban atas dampak yang ditimbulkan, terlihat atau tidak. Celahnya: kerangka amanah ini dirancang untuk pelaku yang punya niat dan kesadaran; belum jelas apakah kerangka yang sama bisa diterapkan begitu saja pada sistem otomatis yang tidak memiliki niat sama sekali, atau apakah amanah itu sepenuhnya kembali dibebankan kepada manusia yang merancang dan menggunakannya.
Ada beberapa langkah konkret yang tersedia bagi mahasiswa yang ingin mempraktikkan keempat lensa ini, bukan sekadar mendiskusikannya. Sebelum sebuah klaim viral dibagikan ke grup angkatan, langkah bayyinah sederhana bisa diterapkan: menelusuri sumber asli klaim tersebut, memeriksa apakah ada pihak kredibel yang telah mengonfirmasinya, dan menahan diri bila sumbernya tidak jelas. Di ruang diskusi kelas atau organisasi kampus, kebiasaan bertanya "ini pendapat siapa, dan berdasarkan apa" sebelum menerima sebuah kesimpulan — termasuk kesimpulan yang dihasilkan oleh alat kecerdasan buatan yang kini lazim dipakai untuk menyusun tugas — bisa menjadi kebiasaan akademik yang sehat. Satu langkah lain yang lebih personal: melakukan audit singkat terhadap akun-akun yang diikuti di media sosial, memeriksa mana yang benar-benar memperluas wawasan dan mana yang hanya memancing reaksi emosional berulang tanpa memberi sesuatu yang baru. Praktik-praktik kecil ini tidak akan menyelesaikan persoalan besar algoritma dan kecerdasan buatan secara struktural, tetapi memberi ruang bagi individu untuk tetap menjadi pengguna yang sadar, bukan sekadar target dari sistem yang dirancang memaksimalkan perhatian.
Empat lensa di atas tidak dimaksudkan menghasilkan satu jawaban final tentang siapa yang harus disalahkan ketika teknologi membentuk opini publik secara keliru. Insentif ekonomi, batas epistemologi, dinamika kerumunan, dan kerangka amanah masing-masing menyingkap satu sisi persoalan sekaligus menyembunyikan sisi lainnya. Barangkali yang lebih penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar, melainkan menyadari bahwa setiap kali sebuah lensa dipilih sebagai satu-satunya penjelasan, ada kemungkinan besar sesuatu yang penting sedang luput dari pandangan.
Pertanyaan
- Q · 01
Ini kan cuma soal literasi digital biasa, kenapa harus dibawa ke bahasan agama segala?
AKeberatan ini masuk akal jika literasi digital dianggap sekadar keterampilan teknis semata. Tetapi persoalan yang dibahas di sini — siapa yang bertanggung jawab, apa yang layak dipercaya, bagaimana amanah dijalankan atas kemampuan baru — sebenarnya pertanyaan etis yang lebih tua dari internet itu sendiri. Tradisi keilmuan mana pun, termasuk tradisi Islam, sudah lama membahas prinsip pembuktian dan pertanggungjawaban jauh sebelum ada algoritma. Yang berubah hanyalah medium tempat pertanyaan lama itu muncul kembali.
- Q · 02
Bukannya algoritma itu netral, yang bermasalah kan penggunanya sendiri yang gampang percaya?
AAda benarnya bahwa pengguna tetap punya andil besar. Tetapi menyebut algoritma sepenuhnya netral juga kurang tepat, sebab algoritma dirancang dengan tujuan tertentu — memaksimalkan waktu tonton, bukan memaksimalkan kebenaran. Sebuah alat yang dirancang untuk tujuan tertentu tidak pernah benar-benar netral terhadap tujuan itu, meski ia tidak memiliki niat dalam pengertian manusiawi. Tanggung jawab memang tetap ada pada pengguna, tetapi itu tidak menghapus perlunya mempertanyakan desain di baliknya.
- Q · 03
Ini kedengarannya kayak nostalgia "dulu tanpa HP hidup lebih tenang", apa bedanya?
ABedanya terletak pada arah argumennya. Nostalgia semacam itu biasanya menyimpulkan bahwa teknologi itu sendiri yang harus dijauhi. Empat lensa di atas tidak mengarah ke kesimpulan itu — satelit yang disinggung pada lensa pertama, misalnya, adalah teknologi yang justru membantu mitigasi bencana. Yang dipersoalkan bukan keberadaan teknologinya, melainkan kebiasaan berpikir yang terbentuk di sekitarnya: seberapa cepat sebuah klaim dipercaya, seberapa jauh tanggung jawab personal masih dijalankan di tengah kemudahan yang ditawarkan.
- Q · 04
Kalau semua harus tabayyun dulu sebelum percaya apa pun, bukannya jadi telat terus ikut diskusi yang lagi ramai?
ATabayyun tidak selalu berarti menunda selamanya sampai semua bukti lengkap terkumpul. Ada perbedaan antara menunda kesimpulan pribadi sampai ada dasar yang cukup, dengan menahan diri dari menyebarkan sesuatu sebagai fakta sebelum diperiksa. Seseorang tetap bisa ikut berdiskusi dan menyampaikan pandangan awal, asalkan jujur menandainya sebagai dugaan, bukan kepastian. Yang dipersoalkan bukan kecepatan berdiskusi, melainkan kecepatan mengklaim sesuatu sebagai kebenaran final.
- Q · 05
Kesannya artikel ini menuduh semua mahasiswa gampang kemakan hoaks, padahal nggak semua begitu.
AGeneralisasi semacam itu memang bukan maksud argumen ini, dan tuduhan sepihak justru bertentangan dengan semangat lensa kedua di atas — memeriksa klaim sebelum menerimanya, termasuk klaim tentang "mahasiswa pada umumnya". Empat lensa ini ditujukan sebagai alat berpikir yang bisa dipakai siapa pun, termasuk yang sudah terbiasa kritis, bukan sebagai vonis atas satu kelompok tertentu. Kebiasaan baik pun tetap perlu sesekali diuji ulang, supaya tidak berubah menjadi rutinitas tanpa pemahaman.
