"Empat Lensa Membaca Bencana Ini"
Ketika gempa M7,7 mengguncang Flores dan Nusa Tenggara Timur pekan ini, linimasa terbelah dalam hitungan jam. Sebagian sibuk menggalang bantuan, sebagian lain sibuk berdebat: apakah bencana ini teguran, kebetulan geologis, atau sekadar risiko hidup di negeri cincin api? Perdebatan ini bukan hal baru — setiap kali bencana besar terjadi, muncul dorongan mencari makna di baliknya, entah teologis, ilmiah, atau politis. Yang menarik bukan jawaban tunggalnya, melainkan bagaimana beberapa sudut pandang yang muncul di ruang diskusi kampus saling menopang sekaligus saling membongkar celah satu sama lain.
Lensa pertama datang dari sains kebumian. Indonesia berdiri di atas pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia; gempa bukan anomali, melainkan konsekuensi geografis yang sudah diketahui jauh sebelum ada yang lahir hari ini. Implikasinya, mitigasi dan infrastruktur tahan gempa jauh lebih relevan daripada mencari alasan moral di balik setiap guncangan. Tetapi celah lensa ini ada — penjelasan ilmiah murni tidak menjawab kebutuhan manusia akan makna. Orang tidak hanya ingin tahu kenapa secara mekanis, mereka juga bertanya untuk apa peristiwa ini bagi hidup mereka. Pertanyaan yang muncul: bisakah penjelasan ilmiah dan pencarian makna berjalan beriringan tanpa saling meniadakan?
Lensa kedua datang dari teologi. Musibah, dalam kerangka ini, dipahami sebagai ujian dan penggugur dosa bagi yang tertimpa, bukan vonis atas dosa kolektif suatu wilayah. Implikasinya, menyalahkan korban dengan anggapan "pasti daerah itu banyak maksiat" adalah kekeliruan teologis sekaligus etis. Tetapi celah lensa ini juga ada: jika setiap musibah dianggap netral secara moral, apakah itu berarti tidak ada hubungan sama sekali antara perilaku manusia terhadap lingkungan dan bencana yang terjadi? Pertanyaan yang muncul: di mana batas antara musibah sebagai ujian personal dan kerusakan lingkungan sebagai akibat langsung dari kelalaian kolektif manusia?
Lensa ketiga datang dari sosiologi bencana. Respons masyarakat terhadap gempa pekan ini menunjukkan pola yang cukup lazim: gelombang solidaritas besar di awal, diikuti penurunan perhatian yang tajam begitu isu baru muncul di linimasa. Implikasinya, bantuan darurat selalu lebih mudah digalang daripada pendampingan jangka panjang. Tetapi celah lensa ini ada — sosiologi bisa menjelaskan pola, tetapi tidak dengan sendirinya memberi alasan mengapa seseorang harus peduli melampaui pola itu. Pertanyaan yang muncul: kalau solidaritas hanya bertahan selama tren linimasa, apa yang bisa membuatnya bertahan lebih lama dari itu?
Lensa keempat datang dari maqashid asy-syari'ah, kerangka tujuan hukum Islam. Manusia diposisikan sebagai khalifah fil-ardh, pengelola bumi yang akan dimintai pertanggungjawaban, dan menolong korban bencana termasuk fardhu kifayah — kewajiban kolektif yang tidak gugur sampai benar-benar cukup orang menanganinya. Implikasinya, kepedulian bukan pilihan personal semata, melainkan kewajiban struktural yang melekat pada posisi kekhalifahan itu sendiri. Tetapi celah lensa ini ada: konsep fardhu kifayah mudah menjadi alasan untuk lepas tangan dengan anggapan "toh sudah ada yang menangani", padahal standar cukup itu sendiri jarang benar-benar diukur. Pertanyaan yang muncul: siapa yang berhak menentukan kapan kewajiban kolektif itu benar-benar sudah gugur?
Yang bisa dilakukan mahasiswa hari ini tidak harus muluk. Di kos: audit kecil kebiasaan sendiri terhadap air dan listrik, sebelum menuntut orang lain melakukan hal serupa — sulit menyerukan kepedulian lingkungan kalau keran kamar mandi kos sendiri masih menetes tanpa diperbaiki. Di kelas atau organisasi: dorong satu diskusi terbuka soal perbedaan antara menyalahkan korban bencana dan mengkritisi kebijakan tata ruang yang memperparah risiko bencana — dua hal yang sering tertukar dalam obrolan warung kopi maupun linimasa. Di kampus: manfaatkan jalur donasi resmi kampus atau organisasi mahasiswa untuk menyalurkan bantuan ke Flores dan NTT, alih-alih transfer ke rekening pribadi yang viral tanpa verifikasi jelas. Di magang atau kerja paruh waktu yang menyentuh tata kelola lingkungan atau kebencanaan, ini momentum memperhatikan detail teknisnya dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar menjadikannya bahan obrolan.
Yang penting bukan menemukan satu jawaban final tentang mengapa Flores yang tertimpa gempa pekan ini, atau lensa mana yang paling benar di antara keempatnya. Yang penting adalah menyadari bahwa lensa sains, teologi, sosiologi, dan fiqh maqashid masing-masing menerangi satu sisi sambil menyisakan bayangan di sisi lain. Barangkali di situlah letak kedewasaan berpikir — bukan memilih satu lensa dan menutup mata pada yang lain, melainkan belajar melihat dengan lebih dari satu sudut pandang sekaligus.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya bencana alam itu urusan sains dan mitigasi, bukan agama? Kenapa harus dibawa-bawa ke kerangka teologis segala?
ABetul bahwa mitigasi teknis adalah domain sains, dan itu tidak digantikan oleh kerangka apa pun. Tapi manusia tidak hidup dari data mitigasi saja — ada kebutuhan makna yang tidak dijawab statistik. Kerangka teologis di sini bukan pengganti sains, melainkan lapisan lain yang menjawab pertanyaan berbeda: bagaimana bersikap secara batin terhadap peristiwa yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan.
- Q · 02
Kalau memang fardhu kifayah, kenapa harus mahasiswa yang bergerak? Bukannya itu tanggung jawab negara dan lembaga besar?
AFardhu kifayah memang bisa gugur kalau sudah cukup pihak yang menangani, tetapi kita jarang benar-benar tahu apakah "cukup" itu sudah tercapai. Menunggu kepastian itu sebelum bergerak sering kali berarti tidak bergerak sama sekali. Mahasiswa tidak menggantikan peran negara, tetapi mengisi celah yang selalu ada di antara kebijakan besar dan kebutuhan mendesak di lapangan.
- Q · 03
Apa bedanya nasihat "jangan boros air" ini dengan moralisme lingkungan generik yang sudah sering kita dengar?
ABedanya ada pada fondasinya, bukan tindakannya. Moralisme generik biasanya berhenti pada rasa bersalah individual tanpa kerangka yang lebih besar. Di sini, hemat air dikaitkan dengan konsep amanah dan kekhalifahan — tindakan kecil punya bobot karena posisi manusia sebagai pengelola, bukan pemilik, bumi ini. Tindakannya mirip, tetapi fondasinya berbeda.
- Q · 04
Saya nggak seagama atau nggak seyakin itu, apa argumen ini masih berlaku buat saya?
ALensa sains dan sosiologi yang dibahas di atas tetap berlaku lepas dari keyakinan personal. Lensa teologis dan fiqh maqashid memang berangkat dari kerangka Islam, tetapi kesimpulannya — peduli pada korban bencana dan bertanggung jawab pada lingkungan — bukan klaim eksklusif yang hanya berlaku bagi satu keyakinan tertentu.
- Q · 05
Bukankah mengaitkan bencana dengan kerusakan lingkungan akibat manusia justru menyalahkan korban dengan cara lain?
AIni kekhawatiran yang valid dan perlu dibedakan dengan jelas. Menyalahkan korban berarti menuduh individu atau daerah tertentu pantas menerima bencana karena dosa personal — itu keliru. Mengkritisi kebijakan tata ruang atau kerusakan lingkungan struktural adalah hal berbeda: itu bicara tentang sistem dan kebijakan kolektif, bukan menuding korban yang justru paling menderita akibat sistem itu.
