"Merdeka yang Belum Selesai di Kampus"
Pekan ini, sekelompok mahasiswa berkumpul di kawasan pusat kota, menyuarakan tuntutan yang mereka bawa turun ke jalan, sebelum akhirnya membubarkan diri dengan tertib. Di linimasa, potongan videonya dibagikan ulang ribuan kali, disertai komentar yang menahan haru — ada yang menulis bahwa adik-adik ini sedang "dijajah oleh bangsanya sendiri", tepat di pekan yang berdekatan dengan peringatan kemerdekaan. Ironinya terasa tajam: kemerdekaan dirayakan dengan karnaval dan lomba di satu sudut kota, sementara di sudut lain mahasiswa merasa perlu berteriak untuk didengar. Di saat yang sama, unggahan lain yang jauh lebih sepi menyebar di kalangan mahasiswa sendiri — pertanyaan jujur tentang di semester berapa mereka benar-benar menikmati kuliah, bukan sekadar menjalaninya. Dua suara ini, yang keras di jalan dan yang pelan di linimasa pribadi, sebenarnya bertanya hal yang sama.
Lensa pertama datang dari ekonomi pendidikan. Ongkos kuliah naik lebih cepat dari kemampuan bayar banyak keluarga, dan pekan ini keluhan soal itu bermunculan — dari kesulitan daftar ulang sampai sindiran tentang kesenjangan gaya hidup di lingkungan kampus. Implikasinya, pendidikan tinggi diam-diam menjadi barang mahal yang dibungkus sebagai hak dasar. Tapi celah lensa ini: kalau semua direduksi ke soal biaya, kita lupa bertanya kenapa ongkos itu naik duluan, dan siapa yang seharusnya menanggung selisihnya. Pertanyaan yang tersisa: apakah mahal itu memang perlu, atau sekadar dibiarkan mahal?
Lensa kedua datang dari sosiologi gerakan mahasiswa. Aksi turun ke jalan adalah bahasa lama yang dipakai ulang setiap kali generasi merasa saluran resminya buntu, dan pekan ini aksi semacam itu kembali muncul di ruang publik, lengkap dengan pembubaran yang tertib oleh aparat. Implikasinya, protes menjadi katup pelepas tekanan yang sah, bukan kekacauan yang harus buru-buru diredam. Tapi celah lensa ini: protes yang viral belum tentu berhasil mengubah kebijakan; sorakan di jalan dan sorakan di kolom komentar sama-sama bisa berhenti begitu tren berganti. Pertanyaan yang tersisa: apa yang bertahan sesudah videonya berhenti dibagikan?
Lensa ketiga datang dari psikologi. Kelelahan yang diam-diam diakui sendiri oleh mahasiswa — bertanya sudah semester berapa mereka benar-benar menikmati kuliah — adalah gejala jenuh yang jarang dianggap serius selama nilai masih aman. Implikasinya, banyak yang bertahan bukan karena termotivasi, tapi karena sudah kepalang tanggung. Tapi celah lensa ini: menyebut semuanya sekadar "capek biasa" bisa membuat kita berhenti bertanya apakah sistemnya yang salah desain, atau ekspektasi individunya yang perlu direvisi. Pertanyaan yang tersisa: kelelahan ini sinyal untuk berhenti sejenak, atau sinyal ada yang memang perlu diubah?
Lensa keempat datang dari prinsip amanah dan istikhlaf. Islam menempatkan ilmu dan tanggung jawab kolektif sebagai titipan, bukan sekadar pencapaian pribadi — sebagaimana disinggung dalam QS. Al-Balad: 13, jalan mendaki yang paling mulia justru yang membebaskan, bukan yang mengikat. Implikasinya, memperjuangkan sistem yang lebih adil, termasuk soal akses pendidikan, adalah bagian dari amanah itu, bukan sekadar aktivisme sekuler yang kebetulan disetujui. Tapi celah lensa ini: bahasa amanah bisa juga disalahgunakan untuk menuntut kesabaran tanpa batas dari pihak yang justru sedang tertekan sistem. Pertanyaan yang tersisa: kapan sabar berhenti menjadi kebajikan, dan mulai menjadi pembiaran?
Bagi mahasiswa yang membaca ini, ada beberapa langkah yang bisa dicoba pekan ini, bukan sekadar niat abstrak. Di tingkat pribadi: hitung ulang pengeluaran kos atau kontrakan bulan ini, pisahkan mana yang kebutuhan dan mana yang sekadar mengikuti tren circle pertemanan — langkah kecil yang mengurangi tekanan finansial tanpa menunggu kebijakan berubah. Di tingkat kelas atau jurusan: kalau ada teman yang terlihat lelah atau mulai jarang masuk, ajak mengobrol berdua dulu sebelum melaporkan ke dosen atau pihak kampus — kadang yang dibutuhkan cuma didengar, bukan diintervensi. Di tingkat organisasi: kalau ikut aksi atau advokasi, biasakan mendokumentasikan tuntutan secara tertulis dan menindaklanjuti hasilnya, supaya energi yang keluar tidak menguap begitu tren berganti. Di tingkat magang atau kerja paruh waktu: kalau merasa dieksploitasi atau dibayar tidak sesuai, catat dan bicarakan dengan pihak yang tepat, bukan dipendam sampai jadi kelelahan yang menumpuk. Semua langkah ini kecil, tapi punya satu kesamaan: memindahkan sebagian energi dari mengeluh di linimasa ke tindakan yang bisa diukur hasilnya sendiri.
Yang penting mungkin bukan menemukan siapa yang paling salah dalam sistem ini — pemerintah, kampus, atau mahasiswa sendiri. Empat lensa di atas menunjukkan bahwa setiap sudut pandang menerangi satu sisi sekaligus menyembunyikan sisi lain. Kemerdekaan yang dirayakan pekan ini mungkin belum selesai bukan karena belum diperjuangkan, tapi karena setiap generasi harus menerjemahkannya ulang ke bentuk yang relevan dengan zamannya sendiri — termasuk generasi yang sedang duduk di bangku kuliah hari ini.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini masalah sistem pendidikan, bukan masalah personal mahasiswa?
ABetul, dan lensa pertama di atas sebetulnya sepakat dengan itu — ongkos pendidikan naik bukan salah mahasiswa. Tapi mengakui itu masalah sistem tidak menghapus ruang untuk tindakan personal; keduanya berjalan paralel. Menunggu sistem berubah total sebelum mengatur pengeluaran sendiri sama saja menyerahkan kendali yang sebenarnya masih bisa dipegang.
- Q · 02
Kenapa harus dibawa-bawa ke agama? Bukannya ini murni soal kebijakan publik?
AKarena Islam tidak memisahkan urusan kebijakan publik dari tanggung jawab moral individu maupun kolektif. Prinsip amanah dan istikhlaf bukan tempelan religius pada isu sekuler — itu cara pandang yang sudah ada jauh sebelum istilah kebijakan publik modern dipakai. Tapi memang benar, kerangka ini bukan satu-satunya lensa yang sah; itu sebabnya artikel ini menyandingkannya dengan tiga lensa lain.
- Q · 03
Aksi turun ke jalan itu efektif, nggak, sih? Bukannya cuma viral doang lalu selesai?
ARisiko itu nyata, dan lensa kedua sudah menyinggungnya. Tapi efektivitas tidak selalu diukur dari perubahan kebijakan instan — kadang efeknya adalah membentuk kesadaran kolektif yang baru terlihat hasilnya bertahun-tahun kemudian. Yang perlu dijaga adalah supaya energi itu tidak berhenti di titik viral, tapi ditindaklanjuti dengan dokumentasi dan advokasi yang lebih sabar.
- Q · 04
Saya sendiri jarang ikut aksi atau organisasi, apa saya dianggap tidak peduli?
ATidak. Solusi praktis di atas justru dimulai dari tingkat personal — mengatur keuangan sendiri, mendengarkan teman yang lelah — yang bisa dilakukan tanpa ikut aksi apa pun. Kepedulian tidak selalu berbentuk turun ke jalan; kadang bentuknya lebih sunyi dan sama pentingnya.
- Q · 05
Kalau capek kuliah itu wajar, kenapa harus dipermasalahkan? Semua orang juga ngerasa gitu, kan?
AKarena "semua orang juga begitu" bukan alasan untuk tidak memeriksa penyebabnya. Lensa ketiga justru mengajak membedakan kelelahan yang wajar dari sinyal bahwa ada desain sistem yang keliru. Menormalkan kelelahan tanpa bertanya kenapa hanya menunda pertanyaan itu ke generasi berikutnya.
