"Batas Tipis Toleransi dan Relativisme"
Pekan ini, sebuah insiden sempat mewarnai peringatan Hari Damai Aceh, dan penyelesaiannya sederhana: bendera nasional dikibarkan kembali di sebuah masjid yang dihormati semua pihak. Pada saat yang hampir bersamaan, negara merayakan kemerdekaannya lewat karnaval bertajuk "Bersatu Harmoni Nusantara" — nama yang menaruh persatuan dan keberagaman dalam satu napas, seakan tidak ada tegangan di antara keduanya. Tapi benarkah tidak ada tegangan? Diskusi lintas-fakultas mengenal betul bahwa kata "toleransi" adalah salah satu kata paling licin dalam wacana publik hari ini — dipakai oleh pihak yang ingin merangkul perbedaan, sekaligus oleh pihak yang diam-diam ingin melarutkan semua perbedaan menjadi tidak penting.
Lensa pertama datang dari sosiologi identitas. Kelompok mana pun, termasuk komunitas beragama, membutuhkan batas yang jelas untuk tetap punya identitas — tanpa batas, sebuah komunitas larut menjadi tidak-apa-apa. Implikasinya, menjaga batas akidah bukan sikap eksklusif yang buruk, melainkan syarat minimal sebuah identitas untuk tetap bermakna. Tetapi celah lensa ini ada: batas yang dijaga terlalu ketat gampang berubah menjadi kecurigaan terhadap siapa pun di luar batas itu. Pertanyaan yang muncul: di titik mana penjagaan batas berhenti menjadi identitas yang sehat, dan mulai menjadi tembok yang memusuhi?
Lensa kedua datang dari filsafat politik. Sebagian pemikir liberal menyamakan toleransi dengan netralitas penuh — semua keyakinan dianggap setara nilainya di ruang publik, negara tidak boleh memihak satu pun. Implikasinya, ruang publik jadi terasa aman untuk semua pihak. Tetapi celah lensa ini ada: netralitas penuh diam-diam mengandung klaim tersembunyi bahwa tidak ada kebenaran yang lebih unggul dari yang lain — dan itu sendiri adalah sebuah klaim keyakinan, bukan ketiadaan klaim. Pertanyaan yang muncul: apakah mungkin menghormati keyakinan orang lain tanpa terjebak berpura-pura bahwa semua keyakinan sama benarnya?
Lensa ketiga datang dari teologi. Islam menawarkan jalan tengah lewat konsep kalimatun sawa' — titik temu yang dicari bukan dengan mencampur akidah, melainkan dengan sepakat pada hal-hal yang memang bisa disepakati, sambil tetap terbuka menyatakan perbedaan pada yang lain. QS. Aal-i-Imraan: 64 mengajak Ahli Kitab pada satu kalimat yang sama tentang menyembah satu Tuhan, tetapi ayat itu sendiri tidak menuntut penyeragaman seluruh doktrin. Implikasinya, toleransi dalam kerangka ini adalah kejujuran tentang perbedaan yang dibungkus kesantunan mencari titik temu, bukan penghapusan perbedaan itu sendiri. Celahnya: pendekatan ini butuh kedewasaan tinggi agar tidak jatuh ke dua ekstrem — menyamakan semua, atau memusuhi semua. Pertanyaan yang muncul: apakah generasi hari ini masih punya kesabaran mencari titik temu, atau lebih nyaman memilih salah satu ekstrem karena lebih cepat dan lebih viral?
Lensa keempat datang dari psikologi media. Perdebatan soal keyakinan orang lain — termasuk topik sensitif seperti status keimanan atau pilihan iman seseorang — terbukti lebih mudah viral dibanding diskusi yang tenang, karena algoritma menghargai emosi tinggi, bukan nuansa. Implikasinya, ruang digital secara struktural mendorong penggunanya ke arah sikap paling ekstrem, bukan paling bijak. Sebuah kitab adab klasik, Bidayatul Hidayah, bahkan sudah memperingatkan bahaya al-mira' wal-jidal — debat dan perdebatan yang dicari-cari — jauh sebelum ada media sosial. Celahnya: kesadaran ini gampang diucapkan tapi susah dijalankan, karena insentif platform tidak berubah hanya karena penggunanya sadar. Pertanyaan yang muncul: mungkinkah generasi yang tumbuh dengan algoritma ini membangun kebiasaan diskusi yang lebih tenang, atau adaptasi ke platform akan selalu menang melawan niat baik individu?
Langkah paling konkret tidak harus menunggu forum diskusi resmi. Di grup kelas atau organisasi kampus, ketika perdebatan mulai menyerang pribadi alih-alih argumen, mengusulkan jeda dan memisahkan argumen dari orangnya adalah opsi yang jarang dicoba tapi cukup efektif. Di kos atau kontrakan yang dihuni bersama teman berbeda keyakinan, menyepakati batas yang jelas sejak awal — soal penggunaan dapur saat bulan puasa, misalnya, atau volume ibadah masing-masing — justru mencegah gesekan, bukan memicunya. Kerja sama lintas-agama dalam kegiatan sosial kampus cenderung lebih langgeng ketika berbasis tujuan konkret, seperti donor darah bersama atau bersih-bersih lingkungan, dibanding ketika berbasis diskusi teologis yang lebih rawan gesekan. Kebiasaan sederhana lain yang mulai banyak dipraktikkan sebagian mahasiswa: menunda beberapa menit sebelum membalas komentar yang menyinggung keyakinan seseorang, membaca ulang, baru memutuskan mengirim atau menghapusnya.
Barangkali yang penting bukan menemukan definisi toleransi yang sempurna dan berlaku untuk semua kasus. Yang lebih realistis adalah menyadari bahwa setiap lensa yang dipakai untuk mendekati isu ini — sosiologis, politik, teologis, maupun psikologis — punya titik buta masing-masing. Toleransi yang matang mungkin bukan soal memilih satu lensa yang paling benar, melainkan soal cukup rendah hati untuk memakai lebih dari satu lensa sekaligus, sambil tetap sadar tidak satu pun dari lensa itu memberi gambaran yang utuh.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya toleransi itu cuma teori kampus yang nggak kepake pas balik ke kampung yang mayoritasnya seragam?
AKampung yang homogen memang jarang menguji toleransi lintas-agama secara langsung. Tapi keterampilan menahan diri dari menghakimi, atau mencari titik temu tanpa mencampur prinsip, tetap terpakai di banyak konteks lain: beda mazhab, beda ormas, beda pilihan politik dalam satu keluarga besar. Toleransi lintas-agama cuma salah satu medan latihannya, bukan satu-satunya.
- Q · 02
Kalau ada yang jelas-jelas menghina Islam secara terbuka, masa harus tetap sopan?
ATidak ada lensa di atas yang menyarankan diam saja terhadap penghinaan terbuka. Bedanya soal cara merespons: meninggalkan forum yang isinya murni ejekan berbeda dari membiarkan penghinaan tanpa sikap sama sekali. Ayat yang sama yang mengajak mencari titik temu juga memberi pengecualian tegas untuk pihak yang jelas berbuat zalim.
- Q · 03
Bukannya isu mualaf-murtad ini cuma drama media sosial yang nggak penting dibahas serius?
ADramanya sendiri mungkin memang tidak penting, tapi pola di baliknya penting: kenapa isu keyakinan personal orang lain begitu mudah jadi tontonan publik? Itu pertanyaan tentang etika ruang digital bersama, bukan sekadar satu unggahan viral.
- Q · 04
Apa bedanya nasihat "cari titik temu" ini dengan sekadar basa-basi diplomatis yang nggak menyelesaikan apa-apa?
ABedanya ada di tindak lanjutnya. Basa-basi berhenti di kata-kata sopan; titik temu yang sungguhan menghasilkan kerja sama konkret — proyek sosial bersama, kesepakatan batas yang jelas, forum yang benar-benar saling mendengarkan. Tanpa tindak lanjut, memang itu hanya basa-basi.
- Q · 05
Kalau seseorang nggak terlalu religius, masih relevan nggak artikel ini?
ATetap relevan, karena keempat lensa di atas bukan cuma soal agama — soal bagaimana identitas apa pun, sekuler atau religius, menjaga batasnya tanpa menjadi tembok. Pertanyaan soal toleransi versus relativisme berlaku juga untuk perbedaan ideologi, kelas sosial, bahkan pilihan gaya hidup.
