"Kenapa Tokoh Selalu Berakhir Didewakan?"
Pekan ini linimasa dipenuhi ucapan Maulid Nabi Muhammad ﷺ — fenomena tahunan yang selalu menarik dari sudut mana pun dilihat, termasuk sudut yang jarang dibahas: pola yang sama juga muncul di luar konteks keagamaan. Ustadz viral yang setiap kalimatnya diperlakukan seolah fatwa final. Tokoh publik yang kritik terhadapnya dianggap pengkhianatan oleh pengikutnya. Bahkan idola non-religius — musisi, atlet, CEO — punya basis penggemar yang memperlakukan ucapan mereka seperti kebenaran mutlak. Ada sesuatu dalam cara manusia berelasi dengan figur yang dikagumi, yang membuat batas antara "menghormati" dan "mendewakan" ternyata jauh lebih tipis daripada yang terlihat.
Lensa pertama — psikologi. Manusia cenderung butuh figur konkret untuk mengonkretkan nilai abstrak; lebih mudah mencintai sosok yang bisa dibayangkan wajahnya daripada mencintai prinsip yang tidak berwujud. Implikasinya, energi devosi lebih sering tertuju ke pribadi ketimbang ke ajaran yang dibawanya. Celahnya, ketika sosok itu melakukan kesalahan, wafat, atau ternyata tidak sesempurna bayangan, devosi itu goyah bersamanya — padahal prinsip yang dibawanya semestinya tetap berdiri, terlepas dari nasib sang pembawa pesan. Pertanyaannya: kalau afeksi terhadap sosok hilang, apakah nilai yang tadinya ia perjuangkan ikut hilang juga?
Lensa kedua — sosiologi budaya fandom. Relasi satu arah terhadap figur publik — yang oleh peneliti media disebut relasi parasosial — menciptakan loyalitas yang menyerupai devosi keagamaan, lengkap dengan rasa memiliki dan rasa terluka saat sang idola dikritik. Implikasinya, kritik terhadap figur itu terasa seperti serangan pribadi bagi pengikutnya, bukan lagi diskusi ide. Celahnya, loyalitas jenis ini gampang berdiri di atas personal branding, bukan substansi ajaran — orang membela sosoknya, bukan lagi memeriksa benar-salah isi pesannya. Pertanyaannya: ketika kita membela seseorang mati-matian di kolom komentar, sebenarnya kita sedang membela kebenaran, atau sedang membela citra orang yang kita kagumi?
Lensa ketiga — perbandingan sejarah keagamaan. Berbagai tradisi keagamaan menunjukkan pola serupa: makin jauh jarak waktu dari sumber ajaran, makin mengabur pula batas antara pembawa pesan dan pesan itu sendiri, sampai sebagian pembawa pesan diangkat ke level ketuhanan oleh generasi sesudahnya. Implikasinya, ini bukan kebetulan satu tradisi saja, melainkan pola lintas budaya yang berulang. Celahnya, pola ini juga bisa disalahgunakan untuk membenarkan sikap skeptis berlebihan terhadap semua figur otoritatif — termasuk otoritas keilmuan yang sah dan perlu dihormati. Pertanyaannya: di mana letak batas antara kewaspadaan yang sehat dan kecurigaan yang justru menolak semua bentuk penghormatan?
Lensa keempat — teologi Islam. Islam menempatkan tawhid sebagai penjaga struktural terhadap kecenderungan ini, dan uniknya, peringatan itu datang dari sosok yang paling berisiko didewakan itu sendiri. Riwayat dalam Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah — 46- باب ما جاء في تواضع رسول الله صلى الله عليه وسلم mencatat Nabi Muhammad ﷺ menegaskan dirinya "hanya seorang hamba", sambil membandingkan langsung dengan bagaimana umat Nasrani berlebihan memuji putra Maryam. Implikasinya, peringatan itu tidak datang dari luar sebagai kritik, melainkan dari dalam sebagai firewall bawaan — sosok yang paling berpotensi dipuja justru yang paling keras menolak posisi itu untuk dirinya sendiri.
Kalau pola ghuluw terhadap tokoh memang sealami itu, langkah paling realistis bukan menghindari kekaguman sama sekali — itu mustahil dan tidak perlu — melainkan membangun kebiasaan memeriksa arah kekaguman itu. Di kos atau kontrakan, coba perhatikan bahasa yang dipakai membicarakan ustadz atau tokoh favorit di grup chat: apakah masih bisa dikritik, atau sudah dianggap tidak mungkin salah? Di kelas atau organisasi, biasakan memisahkan dua pertanyaan yang sering tercampur: "apakah saya suka gaya orang ini menyampaikan sesuatu" dan "apakah isi yang disampaikannya benar" — dua hal yang bisa dijawab berbeda tanpa kontradiksi. Di linimasa pribadi, sebelum membagikan ulang kutipan seorang tokoh, coba tanya apakah yang dibagikan itu karena isinya benar, atau karena siapa yang mengucapkannya.
Bukan berarti mengagumi seseorang itu keliru — mengagumi orang baik justru sehat, dan penghormatan pada guru atau tokoh adalah bagian dari adab yang dijaga banyak tradisi keilmuan. Yang menarik untuk terus dipikirkan adalah bagaimana suatu tradisi bisa mempertahankan kekaguman yang hidup tanpa membiarkannya diam-diam berubah jadi sesuatu yang lain — dan kenapa firewall terhadap pergeseran itu, dalam kasus ini, justru datang dari sosok yang paling berpotensi dirugikan olehnya.
Pertanyaan
- Q · 01
Menghormati tokoh yang saya kagumi itu kan wajar, kenapa harus terus dicurigai?
AMenghormati memang wajar dan sehat, artikel ini juga tidak menyangkalnya. Yang dipersoalkan bukan rasa hormatnya, melainkan titik di mana rasa hormat berubah jadi ketidakmampuan menerima kritik terhadap tokoh itu. Selama masih bisa bilang "saya kagum, tapi bagian ini menurut saya keliru", rasa hormat itu masih dalam batas sehat.
- Q · 02
Ini kan soal Nabi, kenapa dibawa-bawa ke ustadz viral atau tokoh publik lain?
AKarena pola psikologis dan sosiologis di balik keduanya sama — itu justru poin utamanya. Islam mengangkat isu ini bukan hanya untuk kasus Nabi, tapi memberi prinsip umum: tawhid menolak pemujaan berlebihan kepada *siapa pun*, termasuk tokoh kontemporer yang kebetulan sedang viral hari ini.
- Q · 03
Kalau kita dilarang terlalu memuja Nabi, apa bedanya dengan orang yang dingin dan cuek soal agama?
ABedanya di isi, bukan di suhu. Cinta yang dijaga proporsional tetap boleh sangat dalam — buktinya kewajiban bershalawat justru diperintahkan. Bedanya, cinta itu diarahkan menjadi ketaatan dan peniruan akhlak, bukan berhenti di pujian verbal atau simbol yang dipajang tanpa pernah diikuti perubahan perilaku.
- Q · 04
Bukannya perbandingan dengan cara umat Nasrani memuji Nabi Isa ini rawan dibaca sebagai serangan ke agama lain?
APerbandingan itu sendiri datang langsung dari teks hadits, bukan tambahan artikel ini, dan digunakan sebagai contoh kecenderungan psikologis manusia secara umum, bukan sebagai ejekan terhadap keyakinan tertentu. Titik fokusnya adalah pola universal — bagaimana devosi bisa melampaui batas — bukan menilai benar-salah keyakinan siapa pun.
- Q · 05
Saya tidak terlalu religius, apakah bahasan ini masih relevan buat saya?
ASangat relevan, karena polanya bukan cuma soal agama. Fandom terhadap musisi, war di kolom komentar membela influencer favorit, sampai loyalitas buta ke tokoh politik — semuanya jalan lewat mekanisme psikologis yang sama dengan yang dibahas di sini. Kerangka berpikirnya bisa dipakai untuk memeriksa kekaguman ke siapa pun, di ranah mana pun.
