"Percaya Tuhan, Curiga Manusia?"
Pekan ini linimasa dipenuhi testimoni orang yang mengaku tertipu transaksi daring — dari yang kehilangan ratusan ribu rupiah sampai yang kena modus jualan langganan aplikasi kecerdasan buatan palsu. Pola ceritanya nyaris sama: korban merasa sedang melakukan hal yang rasional — memanfaatkan teknologi, mengikuti tren — lalu berakhir kehilangan uang dan kepercayaan sekaligus. Menariknya, pekan yang sama juga dipenuhi ajakan keagamaan untuk berbaik sangka kepada Tuhan, husnuzhan billah, meyakini bahwa apa pun yang terjadi ada hikmahnya. Dua pesan ini, kalau didekatkan, memunculkan ketegangan yang jarang dibahas terbuka: kalau memang dianjurkan berbaik sangka, kenapa dunia justru mengajarkan sebaliknya — bahwa semakin mudah percaya, semakin besar risiko dirugikan?
Lensa pertama, dari psikologi perilaku. Korban penipuan bukan orang bodoh — siasat penipu menyasar bias yang dimiliki hampir semua orang: urgensi ("buruan, slot terbatas"), otoritas ("ini resmi dari platform"), dan kemiripan sosial ("teman kamu juga pakai"). Implikasinya, edukasi "hati-hati" saja tidak cukup, sebab bias itu bekerja di bawah sadar. Tapi celahnya juga ada: kalau penipuan murni soal bias kognitif, kenapa sebagian orang dengan pengetahuan sama tetap lolos sementara yang lain tidak? Pertanyaannya menggantung: apakah kewaspadaan benar-benar bisa diajarkan, atau ada faktor lain yang lebih menentukan?
Lensa kedua, dari ekonomi informasi. Penipu memanfaatkan asimetri informasi — mereka tahu detail sebuah layanan populer lebih dulu daripada calon korban, lalu meminjam nama itu untuk membangun kredibilitas instan. Implikasinya, korban sebenarnya membayar harga dari ketertinggalan informasi, bukan dari kebodohan. Tapi celahnya terasa: kampanye literasi digital selalu lebih lambat dibanding kecepatan modus baru bermunculan. Pertanyaannya, siapa yang seharusnya menanggung beban verifikasi ini — individu yang terus-menerus diminta "lebih waspada", atau platform yang menyediakan ruang bagi modus itu berkembang?
Lensa ketiga, dari teologi. Prinsip husnuzhan billah — sebagaimana disinggung dalam hadits qudsi riwayat Muslim 2675a, "Aku di sisi sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku" — ditujukan secara spesifik kepada Allah, bukan perintah umum untuk mudah percaya kepada sesama manusia. Implikasinya, tidak ada kontradiksi antara berbaik sangka kepada Tuhan dan berhati-hati kepada manusia — keduanya berjalan di ranah berbeda. Tapi celahnya tetap perlu diuji: kalau kepercayaan dipilah serapi itu, apakah itu berisiko menumbuhkan masyarakat yang makin curiga satu sama lain, meski niatnya menjaga diri?
Lensa keempat, dari sosiologi. Budaya membagikan testimoni penipuan secara terbuka berfungsi sebagai sistem peringatan dini kolektif, cara masyarakat digital saling melindungi tanpa menunggu institusi resmi bertindak. Implikasinya, keterbukaan berbagi pengalaman buruk memperkuat solidaritas sosial. Tapi celahnya juga ada: kewaspadaan yang terus dipupuk berisiko bergeser jadi kecurigaan permanen, di mana setiap tawaran — bahkan yang tulus — otomatis dicurigai lebih dulu. Pertanyaannya, bisakah masyarakat membangun kewaspadaan kolektif tanpa ikut mengikis kepercayaan dasar yang dibutuhkan untuk hidup bersama?
Dari empat lensa ini, ada langkah yang bisa langsung dicoba. Di kos atau kontrakan, biasakan aturan sederhana: setiap tawaran yang melibatkan transfer uang, tunggu semalam dulu sebelum memutuskan — jeda itu sering cukup meredam urgensi buatan yang sengaja diciptakan penipu. Di grup kelas atau organisasi, buat kebiasaan saling cek sebelum menyebarkan tawaran menarik — satu orang yang memverifikasi bisa menyelamatkan puluhan orang lain di grup yang sama. Di kantin atau ruang diskusi, testimoni penipuan yang beredar bisa dibaca ulang bukan sebagai bahan obrolan santai, tapi sebagai data pola — modus apa yang berulang, target siapa yang paling sering disasar. Di ranah yang lebih personal, husnuzhan tetap punya tempat: ketika kerugian sudah terjadi dan tidak bisa diputar ulang, energi yang tersisa lebih baik dipakai mencegah orang lain mengalami hal sama, daripada habis untuk menyalahkan diri sendiri tanpa henti. Memisahkan dua sikap ini — waspada sebelum, husnuzhan sesudah — barangkali jawaban paling realistis atas ketegangan yang diajukan di awal tulisan ini.
Yang menarik dari empat lensa di atas bukan karena salah satunya benar dan yang lain salah, melainkan karena keempatnya menunjuk ke arah yang sama dari sudut berbeda: kepercayaan, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama, selalu butuh kerangka yang jelas supaya tidak runtuh sekaligus. Pertanyaan yang tersisa bukan bagaimana menghilangkan risiko sepenuhnya, melainkan bagaimana tetap terbuka tanpa kehilangan kewaspadaan — keseimbangan yang mungkin tidak pernah selesai dicari, hanya terus dilatih.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya gampang banget nyuruh orang "tetap berbaik sangka ke Tuhan" kalau yang ngomong nggak lagi rugi duit beneran?
APoin ini valid — ada risiko klise kalau nasihat husnuzhan disampaikan dari luar, tanpa ikut merasakan kerugiannya. Tapi husnuzhan di sini bukan instruksi supaya korban langsung ikhlas dalam hitungan hari, apalagi menahan diri untuk tidak melapor atau marah. Ia lebih dekat ke jangka panjang: kerugian materi tidak otomatis berarti ditinggalkan secara spiritual. Marah, kecewa, bahkan menangis tetap manusiawi dan tidak bertentangan dengan husnuzhan — yang ditolak hanya kesimpulan bahwa Tuhan sengaja membiarkan tanpa alasan.
- Q · 02
Kalau kita disuruh terus waspada sama manusia, apa bedanya kita sama masyarakat yang makin individualis dan nggak percaya siapa-siapa?
ABedanya ada di objek dan caranya. Individualisme menolak keterlibatan sosial sama sekali; kewaspadaan di sini justru mengasumsikan orang tetap bertransaksi, tetap terhubung — hanya dengan satu langkah verifikasi ekstra sebelum mempercayakan sesuatu yang berisiko. Budaya saling memperingatkan soal modus penipuan, seperti yang ramai pekan ini, justru bentuk kepedulian sosial, bukan penarikan diri darinya. Kewaspadaan dan kepedulian bisa berjalan bersama, selama fokusnya pada tindakan yang diverifikasi, bukan pada menutup diri dari orang lain.
- Q · 03
Apa hubungannya kekeringan sama topik kepercayaan ini? Kok dipaksain jadi satu tema?
AJawabannya bukan karena keduanya berhubungan sebab-akibat secara teknis, melainkan karena keduanya sama-sama contoh sesuatu yang biasa dianggap "mengalir otomatis" — air dan kepercayaan — yang ternyata bisa surut kapan saja. Kesejajaran ini bukan untuk menyamakan dua persoalan yang berbeda skalanya, melainkan menunjukkan pola pikir yang sama: menghadapi kekeringan sumber daya maupun kekeringan kepercayaan sama-sama butuh kombinasi usaha konkret dan sikap batin yang tidak mudah putus asa.
- Q · 04
Saya nggak percaya agama bisa nyelesain masalah penipuan digital yang sifatnya teknis banget.
AArgumen ini punya poin kuat — agama tidak bisa menggantikan solusi teknis seperti verifikasi dua langkah, regulasi platform, atau penegakan hukum siber, dan tulisan ini tidak mengklaim demikian. Yang ditawarkan bukan solusi teknis pengganti, melainkan kerangka sikap: bagaimana seseorang memaknai kerugian setelah terjadi, dan memutuskan tetap terbuka atau menutup diri sepenuhnya sesudahnya. Solusi teknis dan kerangka sikap beroperasi di level berbeda dan tidak saling menggantikan — keduanya dibutuhkan bersama.
- Q · 05
Bukannya nyalahin korban kalau kita ajarin orang buat "lebih waspada" setelah ketipu?
AIni kekhawatiran yang penting dijaga. Menyalahkan korban berarti menempatkan kesalahan sepenuhnya pada orang yang dirugikan. Yang dimaksud di sini berbeda: tanggung jawab utama tetap pada pelaku penipuan, bukan korban. Berbagi pola kewaspadaan ke depan — termasuk oleh korban sendiri yang membagikan pengalamannya, seperti banyak terjadi pekan ini — bukan bentuk penyalahan, melainkan pengalihan pengalaman buruk menjadi perlindungan kolektif. Bedanya ada pada siapa yang bicara dan dengan nada apa.
