"Empat Lensa Membaca Solidaritas Kita"
Pekan ini linimasa dipenuhi dua hal yang berjalan berdampingan: gelombang ajakan solidaritas untuk Palestina, dan perdebatan tajam tentang siapa yang benar-benar peduli dan siapa yang dianggap absen. Di saat yang sama, kabar dari Iran dan Selat Hormuz beredar dengan nada yang nyaris seperti tayangan hiburan bencana, lengkap dengan tokoh yang dibingkai seperti "sutradara" yang memainkan retorika. Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar "apakah kita cukup peduli": apa sebenarnya yang membuat kepedulian itu berarti, dan kenapa begitu banyak energi kolektif berakhir sebagai perdebatan sesama, bukan bantuan yang sampai ke yang membutuhkan?
Lensa pertama datang dari psikologi sosial media: fenomena solidaritas digital sering disebut sebagai bentuk signaling — menunjukkan sikap moral kepada audiens, bukan semata menyalurkan bantuan. Algoritma platform pun cenderung memberi ganjaran pada reaksi cepat dan emosional, bukan pada tindak lanjut yang lambat dan sunyi seperti verifikasi kabar atau donasi rutin. Implikasinya, jumlah unggahan "ramai peduli" tidak berbanding lurus dengan jumlah bantuan yang benar-benar terkirim. Tetapi ada celah dalam kritik ini: menyebut semua solidaritas digital sebagai "cuma pencitraan" berisiko menjadi alasan bagi sikap sinis yang justru tidak melakukan apa pun. Pertanyaannya: kapan kepedulian yang tampak performatif tetap berguna sebagai pintu masuk menuju tindakan yang lebih nyata?
Lensa kedua datang dari hubungan internasional, khususnya perspektif realis yang menekankan kepentingan negara di atas ikatan ideologis. Pergeseran hubungan Suriah, Israel, dan Turki pekan ini — pemerintahan baru Suriah yang tampak menjajaki komunikasi dengan pihak yang sebelumnya dianggap berseberangan, sementara Turki mengirim dukungan militer ke Suriah — sulit dipahami lewat kerangka sederhana "kawan versus lawan". Implikasinya, siapa pun yang menyederhanakan konflik internasional menjadi dua kubu tetap akan kesulitan mengikuti perubahan aliansi yang bisa terjadi dalam hitungan pekan. Namun realisme murni juga punya celah: kerangka ini cenderung mengabaikan dimensi moral dan penderitaan manusia yang nyata di baliknya. Pertanyaannya: bagaimana sikap moral yang jelas bisa dipertahankan tanpa jatuh ke penyederhanaan yang naif tentang siapa benar dan siapa salah?
Lensa ketiga datang dari fikih Islam, khususnya konsep shulh — perdamaian sebagai akad yang formal, bukan sekadar imbauan moral untuk berbaikan. Fath al-Qarib mendefinisikan shulh sebagai sesuatu yang secara bahasa memutus pertikaian, dan secara syariat adalah akad yang dengannya pertikaian itu benar-benar diputus. Implikasinya, tradisi fikih memandang perdamaian sebagai sesuatu yang harus diupayakan secara aktif dan terstruktur, bukan menunggu amarah reda dengan sendirinya. Tetapi ada celah yang jujur harus diakui: siapa yang sebenarnya punya posisi untuk "mendamaikan" dalam konflik antarnegara yang skalanya jauh melampaui individu? Mahasiswa di kos jelas tidak memegang leverage diplomatik apa pun. Pertanyaannya: pada skala mana konsep islah ini benar-benar relevan bagi mereka yang bukan pengambil kebijakan?
Lensa keempat datang dari psikologi moral, tentang fenomena compassion fatigue — kelelahan empati akibat paparan penderitaan yang terus-menerus tanpa saluran tindakan yang jelas. Kemarahan moral yang dipicu berulang kali tanpa muara bisa berujung pada dua arah ekstrem: mati rasa, atau justru amarah performatif yang menuntut validasi sosial semata. Implikasinya, solidaritas yang sehat membutuhkan siklus berkelanjutan yang terstruktur, bukan ledakan emosi sesaat setiap kali sebuah topik viral. Celahnya: struktur semacam itu butuh komitmen jangka panjang yang sulit dijaga ketika perhatian publik sudah berpindah ke topik lain pekan depan. Pertanyaannya: apakah kepedulian yang dirasakan hari ini akan bertahan setelah linimasa tidak lagi ramai membicarakannya?
Dari kos, empat lensa ini bisa diturunkan menjadi langkah yang lebih konkret. Kelompok diskusi atau organisasi kemahasiswaan bisa membuka mekanisme donasi rutin bulanan — bukan hanya saat sebuah tragedi sedang viral — supaya bantuan tidak bergantung pada siklus algoritma. Sebelum membagikan sebuah klaim atau video, kebiasaan mengecek dua sumber independen lebih dulu bisa jadi standar minimal, bukan langkah ekstra yang opsional. Forum diskusi kampus bisa sengaja dirancang untuk membahas satu isu sampai tuntas dalam satu sesi, alih-alih melompat dari topik ke topik seperti pola perdebatan di media sosial. Dan yang tidak kalah penting, energi kritis yang biasa dipakai untuk membedah kebijakan luar negeri bisa juga diarahkan ke dalam: menjaga wacana publik lokal tetap adil, tidak menyudutkan satu kelompok secara kolektif hanya karena kemarahan terhadap kebijakan tertentu.
Empat lensa ini tidak saling meniadakan, dan tidak satu pun yang memberi jawaban tunggal. Psikologi media menjelaskan kenapa solidaritas mudah berhenti di permukaan, realisme politik menjelaskan kenapa peta aliansi terus bergeser, fikih islah menawarkan kerangka nilai tentang bagaimana seharusnya bersikap, dan psikologi moral mengingatkan bahwa kepedulian butuh struktur agar tidak padam. Yang penting bukan menemukan lensa mana yang paling benar, melainkan menyadari bahwa lensa apa pun yang dipilih sebagai yang utama, akan selalu ada celah yang ditutupi oleh lensa yang lain.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya solidaritas online itu tetap ada gunanya buat naikin kesadaran publik? Kenapa harus diremehkan?
AMenaikkan kesadaran memang langkah awal yang penting, dan tidak sedang diremehkan di sini. Persoalannya muncul ketika kesadaran berhenti sebagai titik akhir, bukan pintu masuk. Repost yang diikuti verifikasi, donasi, atau doa yang konsisten tetap punya nilai penuh — yang dipersoalkan adalah pola ketika repost menjadi satu-satunya bentuk keterlibatan yang pernah terjadi.
- Q · 02
Konflik ini urusan negara-negara besar, kenapa mahasiswa Indonesia yang jelas tidak punya kekuatan apa pun harus ikut pusing?
AKeterbatasan kekuatan politik itu nyata dan tidak perlu disangkal. Tapi tanggung jawab moral tidak selalu berbanding lurus dengan kekuatan politik — skala tindakan yang tersedia bagi individu tetap ada, mulai dari doa, donasi rutin, sampai menjaga wacana publik lokal supaya tidak berubah jadi kebencian kolektif. Itu bukan tindakan kelas negara, tapi tetap bermakna pada skalanya sendiri.
- Q · 03
Kalau bersikap kritis terhadap satu pihak, sering muncul tuduhan "kurang Islami" atau "kurang peduli". Apakah itu wajar?
AAda perbedaan penting antara mengkritisi langkah taktis atau strategi tertentu dengan menolak keadilan bagi pihak yang tertindas — dua hal itu sering dicampuradukkan dalam perdebatan yang panas. Tuduhan semacam itu tidak seharusnya membungkam nalar kritis, tapi juga layak jadi bahan refleksi: apakah kritik yang disampaikan benar-benar soal substansi, atau sekadar sikap kontrarian yang mencari perhatian.
- Q · 04
Bukannya mengaitkan isu ini dengan konsep fikih seperti "shulh" malah bikin masalah politik internasional terdengar lebih sederhana dari kenyataannya?
ARisiko penyederhanaan itu nyata, dan penting untuk disadari. Tapi konsep fikih di sini berfungsi sebagai lensa nilai — bagaimana seharusnya sikap batin dan tindakan seorang mukmin terhadap konflik — bukan sebagai resep kebijakan luar negeri. Dua level analisis itu berbeda, dan mencampurnya justru yang berisiko menyesatkan, bukan memisahkannya.
- Q · 05
Rasanya melelahkan mengikuti berita perang setiap hari, kabar buruk terus-menerus. Bagaimana caranya tetap peduli tanpa kehabisan energi?
AKelelahan itu dikenal dalam psikologi sebagai *compassion fatigue*, dan itu respons yang valid, bukan tanda kurang peduli. Jawaban yang lebih realistis bukan memaksakan diri untuk terus mengikuti setiap perkembangan, melainkan membangun rutinitas kepedulian yang terbatas dan terstruktur — jadwal donasi tetap, waktu baca berita yang dibatasi, dan doa yang konsisten — dibanding konsumsi berita tanpa henti yang justru berujung pada kelelahan dan penarikan diri total.
