"Ramai Mengkritik, Sepi Memperbaiki"
Pekan ini, linimasa dipenuhi topik pemerintahan dan kebijakan yang datang beruntun: wacana mempercepat jadwal pemilu yang berubah jadi drama personal seputar satu tokoh politik, rencana aksi unjuk rasa yang dipicu pemblokiran rekening, kekacauan data yang menentukan siapa layak menerima bantuan sosial, dan sorotan ganda — anggaran serta insiden keracunan — pada program makan bergizi gratis. Yang menarik bukan hanya isinya, tapi caranya beredar: setiap topik langsung dibanjiri opini dalam hitungan jam, sementara verifikasi terhadap fakta dasarnya — siapa berperan apa, data mana yang akurat, siapa yang benar-benar bertanggung jawab — berjalan jauh lebih lambat, kalau pernah selesai sama sekali. Fenomena ini bukan hal baru, tapi pekan ini menunjukkannya dengan sangat gamblang: kecepatan menghakimi mengalahkan kesabaran memahami.
Lensa pertama, dari ilmu politik: personalisasi wacana kebijakan. Ketika sebuah wacana kebijakan — semisal soal jadwal pemilu — dibahas publik, energi diskusi sering tersedot habis ke sosok yang mewakilinya, bukan ke desain kebijakannya sendiri. Implikasinya, keputusan besar yang menyangkut hajat banyak orang dievaluasi lewat kacamata suka-tidak-suka terhadap tokohnya, bukan lewat argumen tentang untung-rugi kebijakan itu. Tapi lensa ini juga punya celah: politik memang selalu personal sampai batas tertentu, karena kebijakan dijalankan oleh manusia yang punya rekam jejak, bukan oleh sistem tanpa wajah. Pertanyaannya menjadi: pada titik mana kritik terhadap rekam jejak berubah menjadi serangan personal yang tidak lagi membicarakan kebijakan sama sekali?
Lensa kedua, dari sosiologi media: ekonomi kegaduhan digital. Algoritma media sosial secara struktural memberi panggung lebih besar pada konten yang memicu emosi kuat — kemarahan, sarkasme, superioritas moral — dibanding konten yang sabar menjelaskan duduk perkara. Implikasinya, narasi yang paling nyaring bukan selalu narasi yang paling akurat, dan opini yang viral sering mendahului fakta yang terverifikasi. Celahnya: menyalahkan algoritma saja terlalu mudah, sebab algoritma hanya memperkuat pilihan yang sudah dibuat pengguna — termasuk pilihan untuk membagikan sesuatu sebelum membacanya sampai selesai. Pertanyaannya: siapa yang lebih bertanggung jawab atas kegaduhan ini, sistem yang dirancang untuk viral, atau kebiasaan individu yang gampang tergoda ikut ramai?
Lensa ketiga, dari etika Islam: prinsip amanah dan larangan ghashb. Fiqh muamalah mengenal konsep ghashb — الاسْتِيلَاءُ عَلَى حَقِّ الْغَيْرِ عُدْوَانًا, "menguasai hak orang lain secara melampaui batas" — sebuah kategori pelanggaran yang cukup serius sampai diatur detail dalam kitab-kitab fiqh klasik. Implikasinya, setiap pihak yang memegang data warga, dana publik, atau kepercayaan kolektif — baik individu, lembaga, maupun sistem otomatis — memikul beban amanah yang sama beratnya. Celahnya: kerangka fiqh klasik dirancang untuk pelanggaran yang disengaja oleh individu, sementara kekacauan data seperti yang terjadi pekan ini sering kali murni kegagalan sistem, bukan niat jahat siapa pun. Pertanyaannya: apakah kerugian akibat kegagalan sistem tetap menuntut pertanggungjawaban yang sama beratnya dengan kerugian akibat niat buruk, atau haruskah keduanya dibedakan?
Lensa keempat, dari psikologi sosial: bias identitas kelompok. Manusia cenderung mengevaluasi klaim secara berbeda tergantung siapa yang menyampaikannya — klaim dari "kubu sendiri" lebih mudah dipercaya tanpa verifikasi ketat, sementara klaim dari "kubu seberang" otomatis dicurigai. Implikasinya, perdebatan publik pekan ini kemungkinan besar tidak murni tentang fakta, melainkan tentang identitas kelompok mana yang sedang dibela. Celahnya: kesadaran akan bias ini tidak otomatis menghilangkannya — bahkan orang yang paling sadar akan bias konfirmasi tetap bisa terjebak di dalamnya ketika isunya menyentuh kelompok yang mereka anggap "milik sendiri". Pertanyaannya: seberapa sering klaim dari kelompok yang disukai diperiksa dengan standar yang sama ketatnya seperti klaim dari kelompok yang tidak disukai?
Empat lensa ini tidak saling meniadakan — politik, media, etika, dan psikologi berjalan bersamaan dalam satu peristiwa yang sama, saling memperkuat satu sama lain. Yang mengikat keempatnya adalah satu pertanyaan sederhana: mana yang lebih mudah dilakukan pekan ini, menghakimi cepat atau memahami pelan?
Ada beberapa langkah kecil yang bisa mulai diterapkan pekan ini. Meluangkan satu menit untuk menelusuri sumber asli sebelum sebuah klaim politik dibagikan ulang — bukan sekadar tangkapan layar tanpa konteks — adalah kebiasaan sederhana yang berdampak besar. Di kelas atau organisasi kampus, forum diskusi kecil yang sengaja mengundang dua sudut pandang berbeda dalam satu ruang bisa jadi ruang latihan yang lebih sehat dibanding forum yang hanya menegaskan pandangan yang sudah disepakati bersama. Isu data publik seperti kekacauan DTSEN sendiri membuka peluang riset yang konkret — banyak jurusan (ilmu komputer, statistik, kebijakan publik, hukum) bisa menyumbang analisis nyata, bukan sekadar opini di kolom komentar. Dan yang paling sederhana: sebelum sebuah kritik terhadap tokoh tertentu disampaikan secara personal, ada baiknya dipisahkan dulu — apakah yang sedang dikritik itu kebijakannya, atau semata pribadinya?
Pekan-pekan seperti ini akan terus datang, sebab pemerintahan dan kebijakan publik memang selalu menyentuh kepentingan banyak pihak yang saling bersinggungan. Yang mungkin bisa berubah bukan frekuensi kegaduhannya, melainkan seberapa sering kita — sebagai bagian dari publik yang mengonsumsi dan menyebarkan informasi — memilih jeda sebelum bereaksi. Bukan jawaban final yang dicari di sini, melainkan kebiasaan berpikir yang lebih tahan terhadap godaan kecepatan.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini masalah sistem yang cacat secara struktural — data yang buruk, birokrasi yang lambat — bukan masalah moral personal? Kenapa dibawa ke etika individu?
AKeduanya benar sekaligus, dan tidak saling meniadakan. Sistem yang cacat memang butuh perbaikan struktural yang jauh di luar kapasitas etika personal. Tapi sistem itu sendiri dijalankan, diaudit, dan diperbaiki oleh individu-individu yang memegang amanah di dalamnya. Etika individu tidak menggantikan kebutuhan reformasi struktural — ia adalah lapisan lain yang berjalan paralel, bukan pengganti.
- Q · 02
Kenapa prinsip agama harus ikut campur dalam urusan kebijakan publik yang sifatnya teknis dan administratif?
APrinsip yang diangkat di sini — amanah, keadilan pelayanan, larangan menguasai hak orang lain secara melampaui batas — sebenarnya adalah prinsip etis yang juga muncul dalam banyak kerangka non-agama, hanya berbeda istilah. Yang ditawarkan bukan aturan teknis pengganti kebijakan publik, melainkan kerangka nilai untuk menilai apakah kebijakan itu dijalankan dengan jujur.
- Q · 03
Kalau seseorang memilih tidak ikut demo dan tidak ikut ribut di media sosial soal isu-isu ini, apakah itu berarti apatis?
ATidak otomatis. Memilih tidak turun ke jalan atau tidak berkomentar di linimasa adalah satu pilihan partisipasi di antara banyak pilihan lain — riset, diskusi tertutup, bantuan langsung ke pihak terdampak. Yang jadi persoalan bukan bentuk partisipasinya, melainkan ketika ketidakikutsertaan itu berasal dari ketidakpedulian total, bukan dari pilihan sadar untuk berkontribusi lewat jalur lain.
- Q · 04
Bukankah menahan diri dari kritik yang keras sama saja dengan membiarkan pihak yang salah lolos tanpa konsekuensi?
AMenahan diri dari serangan personal tidak sama dengan menahan diri dari kritik substantif. Kritik yang tajam terhadap kebijakan, data, atau tindakan tetap bisa disampaikan dengan keras dan lugas tanpa harus jatuh ke ejekan personal. Yang dipersoalkan bukan ketajaman kritiknya, melainkan ketika sasarannya bergeser dari tindakan ke pribadi yang tidak lagi relevan dengan substansi.
- Q · 05
Apa bedanya nasihat "jangan menggunjing dalam diskusi politik" ini dengan upaya membungkam kritik yang sah terhadap pejabat publik?
ABedanya terletak pada objeknya. Membungkam berarti melarang isi kritik itu sendiri disampaikan. Yang dipersoalkan di sini bukan isi kritiknya, melainkan bentuknya — ketika kritik terhadap kebijakan berubah jadi tuduhan personal tanpa dasar yang bisa diverifikasi. Pejabat publik memang layak dikritik keras soal kinerja dan kebijakannya; itu berbeda dari menyebarkan klaim personal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
