"Pamrih atau Fitrah: Membaca Ulang Niat Ibadah"
Linimasa pekan ini kembali diramaikan perdebatan lama dengan kemasan baru: ibadah yang dilakukan sambil berharap pahala dituduh sebagai bentuk pamrih, transaksi terselubung dengan Tuhan, bukan ibadah yang "murni". Di sisi lain, ada yang membalas dengan menuduh balik — kalau begitu, mengapa kitab suci sendiri berulang kali menjanjikan surga bagi yang taat? Perdebatan ini menarik bukan karena jawabannya rumit, tapi karena keduanya sama-sama berangkat dari asumsi yang sama: bahwa motivasi ibadah harus murni tunggal, satu warna, tidak boleh bercampur. Benarkah asumsi itu?
Lensa pertama, dari psikologi motivasi. Riset tentang perilaku manusia — dari eksperimen sederhana anak-anak sampai teori motivasi kerja — menunjukkan bahwa motivasi ekstrinsik (imbalan, konsekuensi) dan motivasi intrinsik (nilai, kecintaan) bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan sering berjalan berdampingan, bahkan yang satu bisa menjadi pintu masuk bagi yang lain. Implikasinya: mengenalkan anak pada shalat lewat "nanti dapat pahala" bukan manipulasi, itu cara manusia belajar. Celahnya: kalau berhenti di sana selamanya, lahir moralitas transaksional yang runtuh begitu imbalannya terasa jauh atau tidak instan. Pertanyaannya, bagaimana motivasi yang dimulai dari imbalan bisa matang menjadi nilai yang dipegang bahkan ketika imbalannya tidak lagi terlihat?
Lensa kedua, dari teologi klasik. Ulama tasawuf sejak berabad silam justru sudah memetakan ini secara eksplisit — ada tingkatan hamba yang beribadah karena takut siksa, yang beribadah karena mengejar pahala, dan yang beribadah karena cinta semata. Ketiganya diakui sah, tidak ada yang divonis batal. Bahkan sebuah munajat ahli ibadah yang dihimpun dalam Nashaihul Ibad menggambarkan hamba yang berseru penuh harap kepada Allah sebagai "Penolong orang-orang yang meminta tolong" — harap dan butuh, bukan cinta yang sudah sempurna, dan itu tidak direndahkan. Implikasinya: yang dipersoalkan bukan ada-tidaknya harap, tapi apakah harap itu bertumbuh. Celahnya: siapa yang berhak menilai sudah sejauh mana pertumbuhan batin orang lain? Pertanyaannya, apakah kita benar-benar punya alat ukur untuk kadar ikhlas orang lain, atau itu wilayah yang sejak awal bukan urusan kita?
Lensa ketiga, dari sosiologi media. Perdebatan "pamrih vs ikhlas" ini tidak lahir di ruang hampa — ia lahir di linimasa yang secara struktural memberi panggung lebih besar pada klaim ekstrem dan biner, karena itulah yang memicu reaksi dan interaksi. Implikasinya: sebagian "perang" ini mungkin lebih banyak dibentuk oleh cara kerja algoritma daripada oleh substansi teologis yang sebenarnya. Celahnya: menyalahkan algoritma sepenuhnya juga bisa jadi cara menghindar dari pertanyaan yang sebetulnya sah untuk direnungkan. Pertanyaannya, bisakah pertanyaan yang jujur ini dipisahkan dari kemasan clickbait yang membungkusnya?
Lensa keempat, dari epistemologi keilmuan. Kitab-kitab adab menuntut ilmu klasik mengajarkan bahwa mengakui "aku tidak tahu" adalah bagian dari ilmu itu sendiri, bukan aib — sebagaimana dicatat dalam Adab al-'Alim wa al-Muta'allim, bahkan Imam Syafi'i pernah menjawab "demi Allah, aku tidak tahu" atas pertanyaan hukum yang diajukan muridnya. Implikasinya, kalau ulama sekaliber itu berhati-hati mengklaim kepastian, klaim mengetahui isi hati orang lain — ikhlas atau pamrih — jauh lebih berbahaya untuk digeneralisasi. Celahnya: kerendahan hati ini bisa disalahgunakan jadi relativisme, "ya semua benar saja, tidak usah punya sikap". Pertanyaannya, di mana batas antara rendah hati secara epistemik dan sekadar menghindar dari mengambil sikap?
Empat lensa ini tidak berhenti sebagai diskusi abstrak. Di kos, saat teman sekamar mulai berdebat soal ini, langkah paling sederhana adalah bertanya dulu apakah dua pihak sebenarnya bicara tentang tahap yang sama atau tahap yang berbeda — sering kali "perdebatan" berhenti begitu ini disadari. Di organisasi kerohanian kampus, hindari membuat "level keikhlasan" jadi alat menilai siapa anggota yang lebih layak dihormati; itu jalan pintas menuju kesombongan berkedok spiritualitas. Di kelas atau saat magang, ketika harus memilih antara jujur karena takut sanksi atau jujur karena memang menjunjung integritas, keduanya sama-sah sebagai titik berangkat — yang penting diperiksa arah pertumbuhannya, bukan titik awalnya. Satu latihan kecil yang bisa dicoba pekan ini: sekali sehari, amati satu niat sendiri tanpa buru-buru menghakiminya "aku pamrih banget" — cukup dicatat, diobservasi, dibiarkan tumbuh.
Yang penting mungkin bukan menemukan jawaban final atas pertanyaan siapa yang paling ikhlas, melainkan menyadari bahwa setiap lensa yang dipakai untuk menilai niat orang lain akan selalu punya titik buta sendiri — dan barangkali itulah sebabnya urusan hati sengaja diserahkan sepenuhnya kepada Yang menciptakannya.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini cuma masalah semantik? Toh ujung-ujungnya orang tetap shalat, mau alasannya apa juga.
AAda benarnya — perilaku yang sama bisa punya banyak motif. Tapi motif tetap relevan untuk jangka panjang: motivasi yang berhenti di takut/harap saja cenderung goyah saat insentifnya terasa jauh, sementara yang bertumbuh ke cinta cenderung lebih tahan lama. Jadi bukan semantik kosong, tapi soal daya tahan.
- Q · 02
Kenapa harus repot-repot mikirin motivasi ibadah orang lain? Bukannya itu urusan pribadi masing-masing?
ASetuju, dan itulah justru argumen lensa kedua tadi — menilai kadar ikhlas orang lain memang bukan wilayah kita. Yang jadi masalah bukan orang menjalankan ibadahnya sendiri, tapi ketika ruang publik ramai-ramai memvonis niat orang lain dari luar.
- Q · 03
Kalau saya introspeksi dan sadar ibadah saya masih penuh pamrih, apa itu berarti ibadah saya sia-sia?
ATidak. Justru kesadaran itu tanda pertumbuhan sedang berjalan — orang yang benar-benar tidak peduli biasanya tidak akan repot bertanya. Anggap itu titik berangkat yang jujur, bukan kegagalan.
- Q · 04
Bukannya konsep "tingkatan ikhlas" ini juga bisa disalahgunakan buat merasa lebih tinggi dari orang lain yang "masih di tahap takut-harap"?
ARisiko itu nyata, dan justru sering terjadi. Konsep tingkatan ini dibuat untuk introspeksi diri sendiri, bukan alat mengurutkan orang lain. Begitu dipakai menilai orang lain, ia berbalik jadi kesombongan — persis yang coba dihindari.
- Q · 05
Apa bedanya diskusi ini dengan motivasi generik ala buku pengembangan diri yang juga bicara soal "intrinsic vs extrinsic"?
AKerangkanya memang mirip, tapi tujuannya beda. Buku pengembangan diri biasanya berhenti di produktivitas atau kebahagiaan personal. Yang dibahas di sini punya arah lebih jauh — bukan cuma motivasi yang bertahan lama, tapi motivasi yang bertumbuh menjadi cinta kepada Yang disembah, bukan sekadar kepada hasil yang didapat.
