"Sistem Gagal, Siapa yang Disalahkan?"
Ratusan anak dirawat setelah makan dari satu program pangan pekan ini, dan dapur yang memasaknya dihentikan sementara untuk diselidiki. Belum ada kesimpulan resmi soal penyebabnya, tapi lini masa sudah penuh dengan teori — mulai dari kelalaian teknis sampai dugaan yang lebih gelap. Pola ini bukan hal baru: setiap kali institusi besar gagal menjalankan amanahnya, publik hampir reflektif mencari satu wajah untuk ditunjuk. Pertanyaannya, apakah mencari satu orang yang salah benar-benar cara paling jujur untuk memahami kegagalan sebesar ini?
Lensa pertama, dari manajemen risiko organisasi: kegagalan besar jarang lahir dari satu kesalahan tunggal. Model yang biasa dipakai menyebutnya lapisan-lapisan pengaman yang masing-masing punya celah kecil — dan bencana terjadi ketika celah-celah itu, secara kebetulan, saling berbaris. Implikasinya, memperbaiki sistem berarti menutup banyak celah kecil sekaligus, bukan mengganti satu orang. Tapi celah dari lensa ini juga nyata: kalau semua disalahkan ke "sistem", siapa yang benar-benar bertanggung jawab menutup celah itu? Sistem tidak bisa dipanggil ke pengadilan.
Lensa kedua, dari psikologi kognitif: otak manusia tidak nyaman dengan ketidakpastian, dan mencari satu penyebab tunggal adalah cara tercepat meredakan kecemasan kolektif. Semakin viral sebuah kabar, semakin besar dorongan psikologis untuk segera menemukan siapa yang salah. Implikasinya, reaksi cepat menuduh itu manusiawi, bukan tanda jahat. Tapi celahnya: kecepatan itu sering mengorbankan akurasi, dan tuduhan yang viral duluan bisa merusak nama orang sebelum fakta selesai diverifikasi — kerugian yang tidak bisa ditarik kembali meski belakangan terbukti keliru.
Lensa ketiga, dari teologi: ada hadits yang menyebut "la 'adwa" — tidak ada penularan yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah — namun di riwayat yang sama Nabi ﷺ tetap menganjurkan memisahkan yang sakit dari yang sehat. Kerangka ini menaruh sebab-akibat di bawah kehendak Allah, tanpa meniadakan ikhtiar. Implikasinya, seorang mukmin bisa menahan diri dari tuduhan liar sambil tetap menuntut kehati-hatian nyata. Tapi celahnya: kerangka yang sama bisa disalahgunakan sebagai tameng oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab secara struktural — "ah, ini sudah takdir" bisa jadi kalimat untuk lari dari akuntabilitas, bukan hanya kalimat untuk menenangkan hati.
Lensa keempat, dari ekonomi kebijakan publik: semakin besar dan cepat sebuah program pemerintah diperluas menjangkau jutaan penerima, semakin besar pula area rawan yang perlu diawasi berlapis. Implikasinya, kegagalan berskala besar sering kali adalah harga dari kecepatan ekspansi itu sendiri. Tapi celahnya: memperlambat sampai "sempurna" berarti menunda manfaat gizi yang memang dibutuhkan anak-anak sekarang juga — dan tidak ada rumus pasti soal seberapa lambat itu cukup aman.
Empat lensa ini tidak saling meniadakan; masing-masing menerangi satu sisi dan menyembunyikan sisi lain. Yang menarik untuk diperhatikan bukan lensa mana yang "benar", melainkan bagaimana keempatnya, kalau dipakai sendiri-sendiri, sama-sama bisa berujung pada dua hasil yang berlawanan: tuntutan akuntabilitas yang sehat, atau justru pembenaran untuk tidak bertanggung jawab.
Di level yang lebih dekat, kebiasaan ini bisa dilatih mulai dari kampus. Sebelum membagikan ulang klaim tentang penyebab kejadian ini, cek dulu apakah sumbernya resmi atau baru spekulasi — kebiasaan tabayyun ini sama persis dibutuhkan saat organisasi kampus sendiri kena isu, bukan cuma untuk berita nasional. Kalau ada akses ke dapur kos, kantin kampus, atau dapur kegiatan organisasi, jadikan momentum ini alasan untuk benar-benar mengecek kebersihan dan tanggal kadaluarsa bahan yang dipakai — bukan karena takut, tapi karena kebiasaan menjaga amanah kecil ini yang nanti dibawa saat memegang otoritas lebih besar. Ikut atau memulai forum diskusi kecil di prodi tentang bagaimana organisasi kampus sendiri menangani kesalahan juga bisa jadi latihan nyata sebelum menghadapi skala yang jauh lebih besar.
Barangkali yang penting bukan menemukan siapa yang salah secepat mungkin, melainkan memahami bahwa setiap lensa yang dipilih sebagai jalan pintas menuju kepastian, akan menutupi bagian lain dari gambar yang sama. Pertanyaannya tetap terbuka: kalau bukan pada satu orang, di mana sebenarnya letak tanggung jawab itu harus berhenti?
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ini masalah sistem pemerintah, bukan urusan mahasiswa?
AAda benarnya — skala kebijakan pangan nasional memang di luar kendali mahasiswa secara langsung. Tapi kebiasaan tabayyun sebelum menuduh, dan kebiasaan menjaga amanah kecil (dapur kos, dana organisasi, kepercayaan teman satu tim), berlaku di skala berapa pun. Mahasiswa hari ini adalah pengelola institusi besok — kebiasaan yang dibentuk sekarang bukan latihan yang sia-sia.
- Q · 02
Kenapa harus bawa-bawa hadits "la 'adwa", bukannya itu menunjukkan Islam menolak logika sebab-akibat penularan penyakit?
AJustru sebaliknya — riwayat yang sama juga memuat anjuran memisahkan yang sakit dari yang sehat, artinya sebab-akibat tetap diakui dan ikhtiar tetap dianjurkan. Yang ditolak hanyalah keyakinan bahwa penularan terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah. Ini bukan menolak sains, melainkan menaruh sains dalam kerangka teologis di atasnya.
- Q · 03
Apa bedanya nasihat "jangan buru-buru menuduh" ini dengan diam saja dan tidak menuntut akuntabilitas?
ADua hal itu berbeda. Menahan tuduhan tanpa bukti bukan berarti diam terhadap ketidakadilan — artikel ini tidak meminta berhenti menuntut kejelasan, hanya meminta urutan yang benar: verifikasi dulu, baru bicara, supaya tuntutan itu sendiri tidak kehilangan kredibilitas karena keburu salah sasaran.
- Q · 04
Kalau institusi sebesar itu saja bisa gagal, buat apa capek-capek jaga kebiasaan kecil di kos atau organisasi?
AJustru karena skala besar rawan gagal, skala kecil adalah tempat latihan yang paling murah risikonya. Bagaimana seseorang menangani amanah kecil hari ini — jujur atau menutup-nutupi, cermat atau asal — adalah pola yang akan terbawa saat suatu hari memegang otoritas yang jauh lebih besar.
- Q · 05
Saya tidak terlalu peduli isu kesehatan publik begini, rasanya bukan masalah saya.
AWajar merasa begitu kalau tidak terdampak langsung. Tapi setiap orang yang membagikan ulang klaim, ikut berkomentar, atau memilih diam adalah simpul kecil dalam jaringan kepercayaan publik yang sama. Jarak yang dirasakan tidak selalu sama dengan ketiadaan peran.
