"Ospek, Rasa Takut, dan Ilusi Disiplin"
Pekan ini beredar cerita dari masa orientasi mahasiswa baru: seorang senior menegur juniornya hanya karena mengucapkan "izin masuk" atau "izin bertanya" — frasa sopan yang justru dianggap kesalahan yang harus diluruskan dengan bentakan. Di kampus lain, mahasiswa yang tampil dalam sebuah foto bersama tokoh nasional menghadapi konsekuensi keras dari organisasi kampusnya sendiri, dari pengunduran diri paksa hingga skorsing. Dua cerita ini berbeda konteks, tapi sama-sama memunculkan pertanyaan yang sama: budaya kepatuhan macam apa yang sebenarnya sedang dibentuk di kampus hari ini?
Lensa pertama, dari psikologi sosial: dalam struktur yang menuntut kepatuhan tanpa ruang bertanya, individu cenderung menekan responsnya sendiri demi menghindari konflik dengan otoritas di atasnya — bukan karena setuju, tapi karena takut konsekuensinya. Implikasinya, "disiplin" yang tampak di permukaan sebenarnya adalah kepatuhan yang dipaksakan, bukan nilai yang benar-benar diinternalisasi. Tapi celah lensa ini ada: rasa takut memang bisa memicu kepatuhan cepat dalam situasi darurat atau berbahaya. Pertanyaannya: apakah ruang kelas dan organisasi kampus benar-benar situasi yang butuh kepatuhan sekelas itu, atau ketakutan di sana sekadar warisan kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan?
Lensa kedua, dari sosiologi institusi: pola kekerasan simbolik dalam ospek sering kali diwariskan turun-temurun — mereka yang dulu dibentak saat jadi maba, kelak membentak balik saat menjadi senior, seolah itu adalah "tradisi" yang harus dilestarikan. Implikasinya, institusi mereproduksi trauma sebagai ritus inisiasi, bukan sebagai kesalahan yang perlu diperbaiki. Celahnya: tidak semua yang diwariskan itu buruk, dan menyebut semua tradisi sebagai "kekerasan yang direproduksi" bisa jadi terlalu menyederhanakan. Pertanyaannya: garis apa yang membedakan tradisi kampus yang membentuk karakter, dari tradisi yang sekadar melanggengkan rasa takut karena tidak ada yang berani menghentikannya?
Lensa ketiga, dari sisi akhlak: ada riwayat bahwa Rasulullah ﷺ pernah menegur langsung siapa pun yang terlalu berlebihan memuliakannya. Riwayat itu menyebutkan sabda beliau, "Janganlah kalian berlebihan dalam memujiku sebagaimana orang-orang Nasrani telah berlebihan dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba" (Ash-Shama'il al-Muhammadiyyah, hadis ke-313). Sebagai lensa analitis, bukan sebagai vonis: kalau manusia paling mulia sekalipun menolak penghormatan yang berlebihan terhadap dirinya, layakkah seorang senior menuntut ketundukan dan rasa takut yang berlebihan dari juniornya hanya karena selisih satu-dua tahun masuk kuliah? Celah lensa ini: menghormati senior atau otoritas kampus bukan hal yang salah — yang jadi soal adalah kadarnya, dan itu sulit diukur dengan pasti. Pertanyaannya: siapa yang berhak menentukan batas antara hormat yang sehat dan ketundukan yang berlebihan?
Lensa keempat, dari sisi hasil praktis: kalau tujuan ospek adalah mencetak mahasiswa yang tangguh dan siap kerja tim, pertanyaannya adalah apakah metode intimidasi benar-benar menghasilkan itu, atau hanya menghasilkan mahasiswa yang pandai menyembunyikan ketidaksetujuan di depan otoritas. Implikasinya, kampus mungkin sedang salah mengukur keberhasilan sistemnya sendiri — mengira kepatuhan sebagai tanda karakter kuat. Celahnya: sulit membuktikan secara pasti mana mahasiswa yang "tangguh karena digembleng" dan mana yang "tangguh meski digembleng". Pertanyaan yang tersisa: kalau hasilnya sama-sama tidak bisa dibuktikan, mengapa metode yang lebih menyakitkan yang dipertahankan?
Dari kos, langkah kecil yang bisa dicoba minggu ini: kalau ada obrolan grup angkatan yang mulai membahas rencana ospek atau makrab dengan nada "biar juniornya kapok", coba lontarkan satu pertanyaan balik — "kapok itu tujuannya apa, sih?" — tanpa perlu menggurui siapa pun. Di kelas atau organisasi, kalau kamu jadi panitia kegiatan kampus, coba usulkan satu sesi tanpa hierarki senior-junior sama sekali, lihat bedanya. Di kantin atau lab, kalau dengar cerita teman soal ditegur berlebihan karena hal sepele, dengarkan dulu tanpa buru-buru bilang "dulu aku juga gitu, biasa aja itu" — validasi dulu, baru diskusikan. Prinsip bahwa manusia hanya mendapat apa yang benar-benar diusahakannya (QS. An-Najm: 39) berlaku juga di sini: rasa hormat yang dipaksakan lewat rasa takut tidak benar-benar "didapat" oleh yang memaksanya — ia hanya dipinjam sementara, selama rasa takut itu ada.
Yang penting bukan menemukan jawaban final soal ospek harus dihapus total atau dipertahankan penuh, melainkan memahami bahwa setiap argumen yang membela "tradisi demi karakter" perlu diuji ulang: karakter macam apa yang sebenarnya sedang dibentuk, dan untuk siapa manfaatnya paling terasa — junior yang menjalani, atau senior yang merasa berkuasa.
Pertanyaan
- Q · 01
Bukannya ospek keras itu cuma di beberapa kampus/jurusan doang? Kenapa digeneralisir jadi masalah besar?
ABetul, tidak semua kampus atau jurusan mengalaminya, dan generalisasi memang perlu hati-hati. Tapi pola yang berulang di berbagai cerita — bukan cuma satu kampus — menunjukkan ini bukan kasus terisolasi. Poinnya bukan menuduh semua ospek buruk, melainkan mempertanyakan metode di titik-titik yang memang bermasalah, tanpa perlu menunggu semua kampus mengalaminya dulu.
- Q · 02
Kalau saya dulu ikut ospek keras dan baik-baik saja, kenapa sekarang dianggap masalah?
ASelamat, itu berarti kamu cukup tangguh untuk melewatinya tanpa luka yang terasa. Tapi pengalaman satu orang yang baik-baik saja tidak otomatis membuktikan metodenya aman untuk semua orang — sebagian yang lain mungkin tidak seberuntung itu, dan kita jarang dengar cerita mereka karena mereka memilih diam atau keluar.
- Q · 03
Bukannya ini masalah gaya kepemimpinan personal senior, bukan masalah sistem kampus?
ABisa jadi individual, tapi kalau pola serupa muncul di angkatan demi angkatan tanpa evaluasi dari pihak kampus, itu sudah bergeser dari soal personal menjadi soal sistem yang membiarkan pola itu terus berulang.
- Q · 04
Apa hubungannya ini sama agama? Bukannya ini murni soal budaya kampus sekuler?
AAdab dan akhlak bukan hanya berlaku di ruang ibadah — ia relevan di mana pun ada relasi kuasa, termasuk kampus. Lensa keagamaan di sini bukan untuk mengislamkan ospek, melainkan menawarkan cara pandang tentang batas kewajaran menuntut ketundukan dari orang lain.
- Q · 05
Saya nggak ikut ospek dan nggak masalah sama tradisi ini, ngapain saya harus peduli?
AKamu tidak harus jadi korban untuk peduli. Kampus adalah ruang bersama, dan cara junior diperlakukan hari ini membentuk cara mereka memperlakukan orang lain kelak — termasuk kemungkinan besar, cara mereka nanti memperlakukan juniornya sendiri.
